Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Maarten Paes, kiper berusia 27 tahun yang juga menjadi penjaga gawang Timnas Indonesia, semakin mengokohkan posisi utama di Ajax Amsterdam pada paruh pertama musim 2025/2026. Sejak kedatangannya dari FC Dallas pada Februari 2026 dengan kontrak 3,5 tahun, Paes awalnya dijadikan opsi cadangan di belakang Vitezslav Jaros. Namun, serangkaian cedera pada rekan sesama kiper mengubah dinamika menajamkan peluangnya.
Pada pertandingan lanjutan Eredivisie melawan Feyenoord Rotterdam pada 22 Maret 2026, Paes tampil sebagai starter dan membantu Ajax mengamankan tiga poin penting. Keseberangan jarak pendek dari Jaros yang mengalami cedera ligamen anterior cruciatum (ACL) memaksa pemain berusia 31 tahun itu menutup musim lebih dini, sehingga Paes secara otomatis naik ke posisi kiper utama. Tak lama kemudian, Joeri Heerkens, kiper ketiga berusia 19 tahun, juga harus menjalani operasi pergelangan kaki setelah cedera saat bertanding melawan Vitesse pada 6 April 2026. Kejadian ini meninggalkan Paes sebagai satu-satunya pilihan utama Ajax di bawah mistar gawang.
Meski peranannya semakin vital, Paes tak luput dari sorotan kritis. Legenda Ajax era 1980-an, Wim Kieft, menyoroti pola permainan Paes yang dianggap terlalu berisiko dalam fase build‑up. Kieft menilai Paes terlalu sering mengirimkan umpan pendek kepada bek tengah Josip Šutalo, sehingga menimbulkan ruang bagi lawan untuk menekan. “Mereka (FC Twente) tidak kesulitan, sementara Ajax bermain buruk dan Paes terus mengoper bola ke Šutalo. Saya tidak mengerti,” ujar Kieft setelah kekalahan Ajax 1‑2 dari FC Twente di Johan Cruyff Arena pada 5 April 2026.
Kritik serupa juga datang dari mantan bintang Belanda, Rafael van der Vaart, yang menilai keseluruhan struktur pertahanan Ajax kurang efektif, terutama pada sayap kanan dan kiri yang diisi oleh pemain rekruiter yang belum terbukti. Van der Vaart menambahkan, “Build‑up dari belakang harusnya lebih terkontrol, bukan sekadar mengoper bola secara acak.”
Statistik pertandingan melawan FC Twente menunjukkan Paes mencatatkan rating terendah di antara kiper Ajax dengan skor 5,6. Ia melakukan 51 sentuhan dengan akurasi umpan 74 persen, termasuk tiga umpan panjang yang tidak menghasilkan peluang. Meskipun demikian, Paes berhasil melakukan tiga penyelamatan krusial, namun dua gol yang masuk tetap menambah beban kritik.
Di sisi lain, Paes berhasil mencatatkan clean sheet perdana bersama Ajax pada laga melawan PEC Zwolle di pekan ke‑25 Liga Belanda. Dalam pertandingan yang berakhir imbang 0‑0, Paes tampil penuh 90 menit, melakukan dua penyelamatan penting dan satu tinjuan bola. Total sentuhannya mencapai 50 kali, dengan 32 operan akurat, enam di antaranya merupakan umpan panjang yang tepat sasaran. Hasil imbang ini membantu Ajax tetap berada di posisi ketiga klasemen sementara dengan 44 poin, selisih empat poin dari Feyenoord.
Situasi klasemen menempatkan Ajax dalam persaingan ketat untuk tiket Liga Champions. Setelah kekalahan melawan FC Twente, Ajax berada di urutan kelima dengan 48 poin, tertinggal enam poin dari Feyenoord dan lima poin dari NEC Nijmegen. Dengan lima pertandingan tersisa, Ajax harus memenangkan semua laga untuk tetap memiliki peluang lolos otomatis ke kompetisi Eropa.
Pelatih Oscar Garcia menegaskan bahwa Paes akan menjadi kunci dalam menghadapi sisa jadwal. “Kami membutuhkan konsistensi dari semua lini, terutama dari kiper yang harus menjadi pemimpin di belakang,” ungkap Garcia menjelang pertandingan melawan Heracles Almelo pada 12 April 2026.
Selain tekanan di level klub, Paes juga berada di tengah persaingan untuk menjadi pilihan utama Timnas Indonesia. Emil Audero, kiper muda lainnya, diprediksi akan debut melawan China pada 5 Juni 2025, menambah kompetisi internal. Namun, Paes tetap menjadi favorit utama setelah dinobatkan sebagai Kiper Terbaik dalam PSSI Awards 2026.
Secara keseluruhan, musim 2025/2026 menjadi periode krusial bagi Maarten Paes. Di satu sisi, ia harus menjawab kritik tentang distribusi bola dan peran dalam build‑up, sementara di sisi lain, ia harus mempertahankan performa konsisten untuk membantu Ajax meraih tiket Liga Champions. Keberhasilan Paes dalam mengatasi tekanan ini akan menentukan tidak hanya kariernya di Eropa, tetapi juga kontribusinya bagi Timnas Indonesia di kompetisi internasional.
