Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 Mei 2026 | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menuntaskan kunjungan kerja ke Filipina dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya kerja sama regional di sektor pangan dan energi untuk menghadapi dampak konflik geopolitik global, terutama perang di Timur Tengah.
Menurut Menteri Luar Negeri Sugiono, isu utama yang dibahas dalam KTT ke-48 ASEAN adalah respons kolektif ASEAN terhadap dampak situasi geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi kehidupan negara-negara di kawasan. Sugiono menjelaskan bahwa pemimpin-pemimpin ASEAN memiliki kesadaran yang sama bahwa kawasan Asia Tenggara harus semakin tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global.
Oleh karena itu, penguatan kerja sama regional di sektor pangan dan energi menjadi salah satu fokus utama pembahasan dalam KTT ke-48 ASEAN. Sugiono menambahkan bahwa agenda tersebut sejalan dengan prioritas pemerintah Indonesia, yaitu menempatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai fondasi penting bagi kedaulatan dan ketahanan nasional.
Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin ASEAN juga menyepakati sejumlah hasil konkret atau deliverables sebagai langkah memperkuat ketahanan kawasan. Beberapa di antaranya adalah ASEAN Petroleum Security Agreement serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) yang menjadi bagian penting dari kerja sama regional di sektor energi dan pangan.
Prabowo menegaskan bahwa dinamika global saat ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di suatu kawasan dapat dengan cepat berdampak pada negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara. Oleh karena itu, kerja sama regional yang kuat dan efektif sangat penting untuk menghadapi tantangan global.
Di sisi lain, Ketua ASEAN sekaligus Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan bahwa dampak dari perang Iran telah menciptakan efek domino berupa gangguan dan menyoroti perlunya pandangan ke depan, koordinasi, tindakan konkret, serta kolektif. Ia menambahkan bahwa krisis baru-baru ini merupakan pengingat yang jelas tentang betapa rentannya perekonomian kita terhadap perubahan mendadak dalam tatanan internasional dan, akibatnya, ekonomi global.
Untuk mengurangi tekanan akibat perang Iran, para anggota ASEAN telah menyetujui kerangka kerja berbagi bahan bakar regional, namun belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana program tersebut akan berfungsi. Selain itu, para anggota ASEAN juga telah sepakat untuk mengembangkan jaringan listrik regional dan cadangan bahan bakar, untuk mengurangi ketergantungan mereka pada aktivitas impor energi dari Timur Tengah.
Dengan demikian, KTT ke-48 ASEAN telah membuktikan bahwa kerja sama regional yang kuat dan efektif sangat penting untuk menghadapi tantangan global, terutama dalam sektor pangan dan energi. Prabowo Subianto dan para pemimpin ASEAN lainnya telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk memperkuat kerja sama regional dan meningkatkan ketahanan kawasan.
