Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Iran secara resmi membuka kembali Selat Hormuz selama dua minggu setelah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat pada Rabu, 8 April 2026. Keputusan tersebut menandai langkah penting dalam meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia, sekaligus menimbulkan dampak signifikan pada pasar energi global.
Sejak penutupan selat pada akhir Februari, harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan tajam. Namun, pengumuman pembukaan kembali jalur laut ini memicu penurunan harga yang cukup dramatis. Menurut data Reuters, indeks Brent turun sekitar 13,6 persen menjadi US$94,43 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meluncur 14,3 persen ke level US$96,82 per barel. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan minyak internasional.
Pembukaan Selat Hormuz juga mendapat sambutan positif dari kalangan politik Indonesia. Kapos Komisi VI DPR RI, Mufti Anam (PDIP), menyatakan bahwa keputusan Iran menjadi “peluang sekaligus ujian” bagi Indonesia dalam mengelola ketergantungan energi dan menjaga stabilitas ekonomi domestik. Sementara itu, Kapos Komisi XII DPR RI, Aqib Ardiansyah (PAN), menekankan harapannya agar stabilitas geopolitik terjaga sehingga harga minyak dapat tetap stabil, memberikan ruang bagi perencanaan kebijakan energi nasional.
Di sektor energi, PT Pertamina International Shipping (PIS) melaporkan bahwa dua kapal VLCC miliknya, Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang sebelumnya terperangkap di Teluk Persia karena penutupan Selat Hormuz, kini tengah berusaha melintasi jalur yang baru dibuka. PIS berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta otoritas Iran untuk memastikan keselamatan awak dan keamanan muatan. Vega Pita, Corporate Secretary PIS, menegaskan bahwa prioritas utama adalah keselamatan awak serta keamanan kapal selama proses transit.
Para analis pasar energi menilai bahwa penurunan harga minyak yang tajam memberi ruang bagi negara-negara importir untuk menurunkan subsidi energi dan menstabilkan inflasi. Ibrahim Assuaibi, pengamat komoditas, mencatat bahwa berkurangnya ketegangan geopolitik memungkinkan aliran minyak kembali melalui Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar satu per lima pasokan minyak mentah dunia. Ia memperkirakan negara-negara yang sebelumnya menaikkan tarif bahan bakar berpeluang menurunkan harga kembali jika tren penurunan harga minyak berlanjut.
Namun, tidak semua pihak optimis akan pemulihan harga secara permanen. Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) dalam laporan Short-Term Energy Outlook memperingatkan bahwa meskipun jalur selat kembali terbuka, proses pemulihan aliran minyak secara penuh dapat memakan waktu berbulan-bulan. EIA menambahkan bahwa pasar masih dapat mengalami fluktuasi akibat ketidakpastian politik dan teknis dalam operasi maritim di Selat Hormuz.
Di dalam negeri, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menilai bahwa penurunan harga minyak dunia memberikan peluang bagi pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan fiskal, khususnya dalam hal subsidi energi dan impor BBM. Ia menyatakan bahwa dengan asumsi harga minyak dunia berada di sekitar US$70 per barel, APBN dapat tetap terjaga tanpa mengorbankan program pembangunan. Langkah-langkah antisipatif seperti pemantauan indeks Indonesia Crude Price (ICP) dan penyesuaian anggaran energi menjadi prioritas.
Meski demikian, pasar tetap sensitif terhadap perkembangan selanjutnya. Pada 9 April 2026, setelah laporan tentang hambatan kembali pada jalur tanker di Selat Hormuz, harga minyak mentah kembali naik, dengan Brent mencapai US$97,35 per barel dan WTI menembus US$97,43 per barel. Kenaikan ini menegaskan bahwa stabilitas jangka panjang masih bergantung pada konsistensi pembukaan selat dan tidak adanya intervensi militer lebih lanjut.
Secara keseluruhan, pembukaan Selat Hormuz selama dua minggu menjadi titik balik penting yang memengaruhi dinamika harga minyak global, kebijakan energi Indonesia, serta posisi strategis perusahaan pelayaran nasional. Pemerintah dan sektor swasta diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini dengan memperkuat koordinasi diplomatik, meningkatkan kesiapan teknis, serta menyiapkan kebijakan fiskal yang adaptif. Dengan mengelola peluang dan tantangan secara seimbang, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi nasional sambil mendukung stabilitas pasar energi dunia.
