Blokade AS Goyang Selat Hormuz: Super Tanker Iran dan Kapal Tanker Tiongkok Menembus, CENTCOM Klaim Blokade Selektif

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 18 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah serangkaian kapal tanker melanggar blokade laut yang ditetapkan oleh militer Amerika Serikat. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim bahwa blokade yang diberlakukan pada 12 April bersifat selektif dan masih efektif menahan kapal-kapal berisiko, namun data pelayaran menunjukkan dua supertanker Iran dan satu kapal tanker Tiongkok berhasil menembus selat strategis tersebut.

Blokade militer yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 12 April menyasar semua kapal yang hendak mengunjungi pelabuhan Iran. Sejak penerapan kebijakan itu pada 13 April, CENTCOM melaporkan melalui platform X bahwa setidaknya sepuluh kapal dipaksa berbalik arah. Pihak Pentagon menegaskan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade sejak hari pertama.

Baca juga:

Namun, laporan yang dipublikasikan oleh Reuters dan dikonfirmasi oleh data pelayaran LSEG serta Kpler pada 15 April mengungkap keberadaan sebuah Very Large Crude Carrier (VLCC) berlabel RHN yang tidak mengangkut muatan apa pun, namun melintasi Selat Hormuz menuju perairan Teluk. Kapal berkapasitas dua juta barel ini tidak mengungkapkan tujuan akhir, namun keberadaannya menandai pelanggaran pertama setelah blokade diberlakukan.

Tak lama setelahnya, pada 16 April, sebuah VLCC lain bernama Alicia, juga berada di daftar sanksi AS, berhasil melewati selat yang sama dan dilaporkan menuju wilayah Irak. Kedua kapal tersebut memiliki riwayat pengangkutan minyak Iran selama beberapa tahun terakhir, menunjukkan pola yang mungkin dimanfaatkan Tehran untuk menghindari tekanan ekonomi.

Sementara itu, sumber yang tidak disebutkan secara publik mengonfirmasi bahwa sebuah kapal tanker milik perusahaan Tiongkok juga berhasil menembus Selat Hormuz pada sore hari 17 April. Kapal tersebut, yang tidak mengangkut bahan berbahaya, dikabarkan bergerak menuju pelabuhan Oman sebagai bagian dari upaya Tehran untuk membuka jalur alternatif tanpa risiko serangan langsung. Keberhasilan ini menambah kompleksitas situasi, mengingat hubungan dagang antara China dan Iran yang semakin menguat di tengah sanksi Barat.

Di sisi lain, beberapa kapal lain memang terpaksa berbalik arah. Salah satunya adalah tanker Rich Starry, yang juga berada dalam daftar sanksi, kembali ke perairan Teluk pada 15 April setelah sempat meninggalkan zona konflik. Insiden ini mencerminkan bahwa blokade masih memiliki pengaruh terhadap sebagian armada, meskipun tidak mutlak.

Fars News Agency pada 15 April mengklaim bahwa Iran tengah mempertimbangkan izin pelayaran melalui sisi Oman Selat Hormuz tanpa risiko serangan, sebagai bagian dari negosiasi yang belum menghasilkan kesepakatan damai dengan Washington. Proposal tersebut menuntut adanya jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang berlayar di jalur tersebut, sekaligus mengurangi ketegangan militer di kawasan.

Berikut rangkuman singkat pergerakan kapal dalam seminggu terakhir:

  • VLCC RHN – tidak berisi muatan, menembus Selat Hormuz pada 15 April.
  • VLCC Alicia – berstatus sanksi, menembus selat pada 16 April, menuju Irak.
  • Kapal tanker Tiongkok – menembus selat pada 17 April, tujuan menuju Oman.
  • Tanker Rich Starry – dipaksa berbalik arah pada 15 April.

Keberhasilan tiga kapal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas blokade selektif yang diterapkan oleh Amerika Serikat. CENTCOM tetap menegaskan bahwa mereka berhasil mencegah lebih dari sepuluh kapal, namun fakta bahwa beberapa supertanker dan kapal komersial berhasil melintasi selat menandakan adanya celah operasional atau kemungkinan koordinasi dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan strategis di wilayah tersebut.

Para analis militer memperkirakan bahwa blokade selektif mungkin dirancang untuk menekan Iran secara ekonomi sambil menghindari eskalasi militer yang lebih luas. Namun, keberhasilan kapal-kapal yang melanggar blokade dapat memicu reaksi balik, termasuk peningkatan patroli angkatan laut atau tindakan balasan diplomatik.

Dengan situasi yang terus berkembang, perhatian dunia kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Washington dan Tehran. Jika negosiasi damai tetap mandek, kemungkinan peningkatan ketegangan di Selat Hormuz akan berlanjut, mengancam jalur perdagangan minyak global yang sangat vital.

Kesimpulannya, meskipun blokade AS masih menahan sejumlah kapal, keberhasilan beberapa supertanker Iran dan kapal tanker Tiongkok menembus Selat Hormuz menunjukkan bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya berhasil menutup semua celah. Ke depan, dinamika geopolitik di kawasan ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan masing‑masing pihak dalam menegosiasikan solusi yang dapat mencegah konflik berskala lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *