Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Trimegah Group, yang selama lebih dari satu dekade dikenal sebagai jaringan diler utama mobil Jepang di Indonesia, kini mengumumkan strategi besar: beralih fokus ke merek mobil asal China. Keputusan ini diambil di tengah percepatan tren elektrifikasi dan perubahan selera konsumen yang semakin menuntut nilai “value for money” serta teknologi canggih.
Direktur Utama Trimegah Group, Lindawati Tandyo, menyampaikan bahwa merek China telah melampaui Jepang dalam hal riset dan pengembangan kendaraan listrik. “Untuk elektrifikasi, merek China sudah sangat maju, sementara mobil Jepang masih tertinggal dalam investasi riset,” ujar Lindawati dalam sebuah konferensi pers di Wuhu, China, pada 27 April 2026. Ia menambahkan, “Konsumen kini pintar, mereka mencari teknologi terkini dengan harga bersaing, dan kami harus beradaptasi.
Perubahan ini bukan keputusan mendadak. Sejak 2023, ketika pasar otomotif mulai pulih pasca pandemi, Trimegah mencatat penurunan inovasi dari produsen Jepang – tidak ada model baru, tidak ada fitur signifikan. Sementara itu, merek China seperti Jaecoo meluncurkan model J5 yang langsung mencuri perhatian. Dalam dua bulan sejak pembukaan pemesanan pada Februari 2026, Trimegah telah menerima 500 unit pesanan, menandakan antusiasme tinggi.
Sejak 2009, Trimegah Group telah melayani sekitar 200.000 pelanggan dengan produk mobil Jepang. Namun, survei internal menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan kini beralih ke mobil China yang menawarkan paket lengkap: teknologi baterai terbaru, sistem infotainment terintegrasi, serta harga yang lebih kompetitif. “Banyak customer kami yang beralih, dan kami mengikuti permintaan pasar,” kata Lindawati.
Sementara Trimegah mengalihkan fokus penjualannya, pasar mobil bekas tetap menunjukkan dinamika yang menarik. Data JBA Indonesia mengungkapkan bahwa pada kuartal I 2026 lebih dari 40.000 unit mobil bekas dilelang, dengan dominasi kendaraan LCGC dan MPV seperti Toyota Avanza, Calya, dan Agya. Kendaraan niaga seperti Daihatsu Gran Max dan Mitsubishi Triton juga terus laris, terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Permintaan tinggi terhadap mobil irit bahan bakar menunjukkan bahwa konsumen masih mengutamakan efisiensi biaya operasional, meski minat terhadap kendaraan listrik terus meningkat.
Fenomena ini menciptakan kontras menarik: di satu sisi, Trimegah Group menyiapkan diri untuk masa depan elektrifikasi dengan mengusung mobil China, sementara di sisi lain, segmen mobil bekas berbahan bakar bensin tetap menjadi pilihan utama bagi banyak konsumen. Hal ini menegaskan bahwa transisi ke kendaraan listrik akan berlangsung secara bertahap, dengan pasar tradisional tetap relevan dalam jangka pendek.
Di luar sektor otomotif, nama Trimegah juga muncul dalam dunia keuangan. Trimegah Asset Management, bagian dari grup yang sama, kini menjadi salah satu manajer investasi yang ditawarkan oleh PT Bank Syariah Indonesia dalam program PINTAR Reksa Dana SiMuda. Program ini membuka peluang investasi reksa dana syariah dengan minimal Rp10.000, menargetkan generasi muda. Kehadiran Trimegah di bidang keuangan menambah dimensi diversifikasi bisnis grup, memperkuat posisinya sebagai pemain multinasional yang adaptif.
Langkah strategis Trimegah Group untuk mengalihkan fokus ke mobil China dipandang sebagai respons realistis terhadap perubahan ekosistem otomotif global. Dengan dukungan teknologi baterai, infrastruktur pengisian yang berkembang, serta kebijakan pemerintah yang mendorong elektrifikasi, produsen China diperkirakan akan terus memperluas pangsa pasar di Indonesia.
Secara keseluruhan, pergeseran Trimegah Group menandai titik balik penting dalam industri otomotif Tanah Air. Kombinasi antara kebutuhan konsumen akan teknologi terkini, tekanan harga, serta peluang di sektor keuangan menegaskan bahwa grup ini berusaha tetap relevan dan kompetitif di era mobilitas baru.
