Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Jokowi terus memegang popularitas tinggi, menjadikannya sosok sentral dalam dinamika politik Indonesia menjelang Pilpres 2029. Identitasnya sebagai “orang kampung” yang selalu ditekankan sejak masa kepemimpinan pertama masih menjadi bahan bakar bagi para pengamat politik untuk menilai kekuatan elektoralnya.
Menurut Dradjad Wibowo, politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN), popularitas Jokowi yang tetap tinggi memberi peluang signifikan bagi putranya, Gibran Rakabuming Raka, untuk kembali menjadi pendamping Presiden Prabowo Subianto pada pemilihan 2029. Dradjad menekankan bahwa efek koalisi atau “coattail effect” dari Jokowi dapat menjadi pertimbangan rasional bagi Prabowo dalam menentukan pasangan calon wakil presiden.
Dradjad menambahkan bahwa keputusan pasangan capres‑cawapres tidak semata‑mata dipengaruhi oleh popularitas pribadi, melainkan oleh kalkulasi partai. Ia menyoroti kemungkinan Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN, menjadi calon wakil presiden jika konstelasi politik memungkinkan. Semua itu tetap tergantung pada posisi Jokowi menjelang pendaftaran resmi di Komisi Pemilihan Umum (KPU), di mana basis pemilihnya yang solid akan menjadi faktor penentu.
Dalam konteks historis, Jokowi tidak memiliki partai politik sendiri, berbeda dengan Megawati Soekarnoputri atau Susilo Bambang Yudhoyono yang mengandalkan mesin partai. Namun, Dradjad mencatat bahwa kekuatan mantan presiden biasanya tercermin dari soliditas basis pemilihnya. Karena itu, meski belum memiliki struktur partai, popularitas Jokowi yang tetap tinggi dapat menggerakkan aliansi lintas partai menjelang pemilihan.
Konsep “orang kampung” yang kerap diulang oleh Jokowi bukan sekadar retorika personal. Narasi ini menegaskan kedekatan pemimpin dengan rakyat kecil, menekankan nilai kesederhanaan dan kejujuran. Dalam tradisi politik Indonesia, simbol semacam ini telah digunakan sejak era Soekarno sebagai “penyambung lidah rakyat” hingga Soeharto yang menonjolkan citra “bapak pembangunan”. Analisis akademis menunjukkan bahwa framing semacam ini berfungsi untuk memposisikan pemimpin di sisi rakyat, menciptakan jarak simbolik dari elit politik.
Pengaruh Jokowi juga tampak dalam kasus Jumhur Hidayat, tokoh buruh yang baru-baru ini dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Presiden Prabowo. Sebelum menjadi menteri, Jumhur pernah menjadi relawan koordinator Aliansi Rakyat Merdeka (ARM) pada Pemilu 2014, mendukung kampanye Jokowi. Perubahan sikap politiknya pada 2019, ketika ia beralih mendukung Prabowo, mengilustrasikan dinamika aliansi yang dipengaruhi oleh jaringan kepemimpinan lama. Penunjukan Jumhur sebagai menteri memperkuat dugaan bahwa jaringan pengaruh Jokowi tetap aktif, meskipun tidak secara langsung terikat pada partai tertentu.
Dengan meninjau peta kekuatan politik enam bulan sebelum masa pendaftaran calon, para pengamat memperkirakan bahwa Jokowi akan tetap menjadi “kingmaker” tidak resmi. Popularitasnya dapat menggerakkan keputusan partai-partai kecil, memicu pergeseran aliansi, dan menentukan apakah Gibran akan kembali mendampingi Prabowo ataukah koalisi baru akan terbentuk. Faktor‑faktor tersebut akan sangat dipengaruhi oleh citra “orang kampung” yang terus dipertahankan oleh Jokowi dalam setiap penampilan publiknya.
Secara keseluruhan, popularitas Jokowi yang masih berada pada puncak, dipadu dengan narasi “orang kampung” yang mengakar kuat di benak publik, memberi dampak signifikan pada strategi politik 2029. Baik Gibran, Zulkifli Hasan, maupun tokoh‑tokoh lain akan menyesuaikan langkahnya dengan mengantisipasi efek koalisi yang dapat ditimbulkan oleh sosok mantan presiden ini.
