Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 Mei 2026 | Sektor batu bara masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG). Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi, mengungkapkan bahwa pendekatan dekarbonisasi sektor batu bara harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup industri, mulai dari proses produksi, distribusi, hingga dampak setelah energi digunakan.
Salah satu tantangan utama adalah pengukuran emisi secara menyeluruh, tidak hanya emisi langsung dari operasional perusahaan, tetapi juga emisi dari transportasi, limbah B3, hingga bagaimana batu bara itu digunakan di pembangkit. Perusahaan dinilai perlu memiliki sistem pengelolaan data dan monitoring yang kuat agar target pengurangan emisi dapat diukur secara kredibel.
Selain aspek lingkungan, dimensi sosial juga menjadi tantangan penting dalam implementasi ESG sektor pertambangan. Isu kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar tambang masih belum banyak mendapat perhatian dalam laporan keberlanjutan perusahaan. Kecelakaan kerja mungkin sudah mulai ditekan, tapi isu seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu tambang masih jarang dibahas secara serius dalam laporan ESG.
Presiden RI, Prabowo Subianto, juga menyentil para eksportir sawit dan batu bara karena menyimpan devisa hasil ekspor di luar negeri, padahal dana tersebut dibutuhkan untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional. Prabowo mewajibkan penyimpanan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di dalam negeri melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, menilai tantangan utama implementasi ESG di Indonesia masih terletak pada kesenjangan antara komitmen perusahaan dan kondisi di lapangan. ESG yang baik itu bisa diukur, diverifikasi, dan dirasakan. Kalau tidak ada semuanya, ya itu hanya narasi.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga berperan dalam distribusi batu bara, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. KAI mengangkut 16.631.048 ton batu bara pada periode Januari hingga April 2026. Sebagian besar angkutan tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik, terutama di Jawa dan Bali yang dihuni lebih dari 163 juta penduduk atau sekitar 58 persen populasi Indonesia.
Kesimpulan, implementasi ESG di sektor batu bara masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengukuran emisi secara menyeluruh hingga dampak sosial terhadap pekerja dan masyarakat sekitar tambang. Perusahaan dinilai perlu memiliki sistem pengelolaan data dan monitoring yang kuat agar target pengurangan emisi dapat diukur secara kredibel. Pemerintah juga perlu mengambil langkah tegas untuk memastikan bahwa hasil ekspor batu bara dan sumber daya alam lainnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
