Dino Patti Djalal: Prabowo Terlalu Giat Mengejar Trump, Rekomendasi Pendekatan Baru Indonesia‑AS

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri dan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tampak terlalu bersemangat mengejar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial pada Minggu (12/4/2026), Dino mengkritik strategi luar negeri Indonesia yang terlalu menekankan kedekatan pribadi antara kedua pemimpin tanpa menghasilkan kemajuan substantif.

Dino menilai bahwa upaya mendekatkan Prabowo dengan Trump terlihat dari serangkaian pertemuan dan kunjungan di forum‑forum internasional, namun tidak berujung pada pertemuan bilateral resmi di Gedung Putih. “Tidak ada pertemuan resmi di Gedung Putih, sehingga hasilnya tidak signifikan,” ujar Dino. Ia menambahkan bahwa hubungan yang bersifat personal dan berlebihan berisiko menciptakan ketidakseimbangan, mengingat gaya kepemimpinan Trump yang menurutnya cenderung dominan, menuntut, serta kurang menghormati norma internasional.

Baca juga:

Menurut Dino, karakter kepemimpinan Trump dapat menjadi faktor risiko bagi Indonesia. “Presiden Trump cenderung mendominasi, memaksakan kepentingannya, dan tidak menghormati hukum serta norma internasional,” tegasnya. Dalam empat bulan terakhir, Dino menilai Trump berubah menjadi pemimpin dunia yang paling berbahaya, menolak aturan multilateral dan menekankan kebijakan unilateral yang dapat merugikan negara‑negara mitra, termasuk Indonesia.

Meski mengkritik pendekatan yang terlalu bergantung pada pertemuan pribadi, Dino tidak menyarankan Indonesia memutus hubungan dengan Amerika Serikat. Ia justru mengusulkan pendekatan yang lebih terukur dan berbasis kepentingan teknis. “Kerja sama tetap penting, khususnya di bidang perdagangan, investasi, dan pertahanan,” ujar Dino. Ia menekankan bahwa Indonesia sebaiknya memfokuskan dialog pada isu‑isu konkret yang dapat memberikan nilai tambah bagi kedua negara, tanpa menempatkan presiden‑presiden dalam posisi yang terlalu menonjol.

Berikut rangkuman rekomendasi Dino Patti Djalal untuk kebijakan luar negeri Indonesia dalam konteks hubungan dengan Amerika Serikat:

  • Kurangi eksposur langsung antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump, terutama dalam forum publik yang tidak menghasilkan kesepakatan konkret.
  • Fokus pada kerja sama teknis di sektor perdagangan, investasi, energi, dan pertahanan, yang dapat dikelola melalui kementerian terkait dan lembaga diplomatik.
  • Perkuat koordinasi dengan sekutu regional ASEAN untuk menyeimbangkan hubungan bilateral dengan AS, sehingga tidak menimbulkan ketergantungan berlebih.
  • Pantau dinamika kebijakan luar negeri Trump secara cermat, termasuk potensi perubahan regulasi perdagangan dan kebijakan keamanan.
  • Bangun mekanisme evaluasi berkala terhadap hasil kerjasama bilateral, guna memastikan manfaat yang berkelanjutan bagi Indonesia.

Dino juga menyoroti pentingnya menjaga kedaulatan Indonesia dalam setiap negosiasi. “Hubungan yang tidak setara dapat mengorbankan kepentingan nasional,” katanya. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kebijakan luar negeri harus selalu mengedepankan prinsip kemerdekaan, kedaulatan, dan kepentingan rakyat.

Pengamatan Dino Patti Djalal muncul di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap kebijakan luar negeri Indonesia pasca pemilihan presiden. Pemerintah saat ini tengah menavigasi hubungan dengan beberapa kekuatan global, termasuk Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa. Kritik dari pakar kebijakan luar negeri seperti Dino diharapkan dapat memberikan perspektif objektif bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi yang seimbang dan berkelanjutan.

Kesimpulannya, Dino Patti Djalal menilai bahwa antusiasme Prabowo dalam mengejar kedekatan pribadi dengan Presiden Trump belum menghasilkan manfaat nyata bagi Indonesia. Ia menyerukan pendekatan yang lebih pragmatis, berfokus pada kerja sama teknis, serta mengurangi risiko ketidakseimbangan dalam hubungan bilateral. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional sekaligus melindungi kepentingan nasional dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *