Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 18 April 2026 | JAKARTA, 17 April 2026 – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat melemah 50 poin atau 0,29 persen, mencatat level Rp17.189 per dolar AS, turun dari Rp17.139 pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi beriringan dengan pengumuman Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) yang memberikan outlook negatif pada obligasi pemerintah Indonesia, menandakan peningkatan risiko kredit meski peringkat belum berubah.
Analisis dari Rully Nova, analis senior Bank Woori, menegaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh tekanan domestik yang berasal dari sinyal negatif S&P. “Rupiah pada perdagangan hari ini lebih dipengaruhi oleh tekanan domestic terkait outlook yang negatif dari lembaga rating S&P terhadap peringkat obligasi pemerintah karena tekanan fiskal pemerintah yang besar,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta. Menurut Nova, pasar kini menilai bahwa beban fiskal Indonesia masih berada pada level yang mengkhawatirkan, khususnya terkait rasio pembayaran utang yang menjadi fokus utama S&P.
S&P mengungkapkan keprihatinannya terhadap kemampuan Indonesia dalam menjaga defisit anggaran di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pertanyaan tersebut dengan data terbaru: realisasi sementara defisit APBN 2025 tercatat 2,92 persen PDB, dan diproyeksikan akan menyempit menjadi 2,8 persen setelah audit final oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Untuk tahun anggaran 2026, Kementerian Keuangan menargetkan perbaikan melalui restrukturisasi organisasi, peningkatan penerimaan pajak, serta penguatan kepabeanan dan cukai.
Faktor eksternal juga turut memperkuat tekanan pada rupiah. Meskipun mayoritas mata uang regional menguat dan indeks dolar relatif stabil, kebijakan moneter global yang masih ketat serta ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, menambah ketidakpastian di pasar keuangan. Investor global cenderung meningkatkan aksi lindung nilai atau beralih ke aset berdenominasi dolar AS, mengakibatkan permintaan dolar domestik naik.
- Data kurs: JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.189 per dolar AS pada penutupan, naik dari Rp17.142 pada sesi sebelumnya.
- Defisit APBN 2025: 2,92% PDB (sementara); proyeksi akhir 2,8% PDB.
- Target defisit 2026: menjaga di bawah 3% PDB melalui reformasi pajak dan kepabeanan.
Para pengamat menilai bahwa outlook negatif S&P tidak serta-merta menurunkan peringkat, namun menjadi sinyal peringatan bagi otoritas fiskal. Jika pemerintah tidak mampu menampilkan kebijakan fiskal yang kredibel, tekanan pada nilai tukar dapat berlanjut, memicu arus keluar modal dan memperburuk biaya pinjaman luar negeri. Di sisi lain, langkah-langkah reformasi yang dijanjikan, seperti restrukturisasi organisasi Kemenkeu dan peningkatan kepatuhan pajak, dapat memberikan dukungan positif bagi sentimen pasar.
Dalam jangka menengah, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mengendalikan defisit anggaran serta menurunkan rasio utang terhadap PDB. Kebijakan moneter Bank Indonesia, termasuk penyesuaian suku bunga acuan, juga akan memainkan peran penting dalam menyeimbangkan arus masuk dan keluar modal. Sementara itu, faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve dan dinamika geopolitik tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi.
Secara keseluruhan, outlook negatif S&P menegaskan kembali pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga kestabilan nilai tukar. Pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural, meningkatkan transparansi anggaran, dan memastikan defisit tetap berada di bawah batas aman. Jika langkah‑langkah tersebut berhasil, rupiah berpotensi kembali menguat, mengurangi beban biaya pinjaman dan memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
