Stasiun Ciomas Rancamaya Siap Jadi Gerbang Utama, Memperpendek Waktu Tempuh Bogor‑Bandung

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 April 2026 | Bogor, 20 April 2026 – Pemerintah Kota Bogor semakin giat memperkuat jaringan perkeretaapian setelah Wali Kota Dedie A. Rachim menggelar pertemuan strategis dengan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono, pada Jumat 17 April 2026. Fokus utama diskusi adalah rencana pengembangan akses baru melalui Stasiun Ciomas Rancamaya, yang diharapkan menjadi titik strategis untuk memperpendek jarak tempuh antara Bogor dan Bandung secara signifikan.

Stasiun Ciomas Rancamaya terletak di wilayah selatan Bogor dan diproyeksikan menjadi pintu masuk alternatif bagi penumpang yang ingin menyeberangi jalur Bogor‑Bandung tanpa harus melewati jalur utara yang kini mengalami kepadatan tinggi. Wali Kota menegaskan kesiapan Pemkot Bogor dalam mendukung pembangunan stasiun tersebut, termasuk integrasi dengan program perumahan melalui pembangunan rumah susun di sekitarnya. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan mobilitas, tetapi juga menyerap kebutuhan hunian masyarakat sekitar.

Baca juga:

Selain pengembangan stasiun, pemerintah daerah menyoroti kebutuhan penataan perlintasan sebidang di kawasan MA Salmun dan Kebon Pedes. Penutupan perlintasan sebidang di MA Salmun diusulkan bersamaan dengan pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) untuk memastikan mobilitas tetap lancar dan aman. Di Kebon Pedes, rencana pembangunan underpass dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang, meski masih memerlukan kajian teknis dan proses pembebasan lahan.

KAI Commuter juga memberikan dukungan signifikan terhadap penguatan jaringan kereta. Pada hari yang sama, KAI Commuter mengumumkan penutupan sementara peron 6 hingga 8 di Stasiun Bogor untuk memfasilitasi pembangunan sky bridge yang akan menghubungkan Stasiun Bogor, Stasiun Paledang, dan Alun‑Alun Kota Bogor. Untuk mengantisipasi penutupan tersebut, KAI Commuter menyiapkan akses alternatif melalui JPO Paledang serta menambah fasilitas masuk‑keluar di area peron aktif, sehingga penumpang tidak mengalami gangguan signifikan.

Pengadaan rangkaian KRL baru menjadi komponen penting dalam upaya meningkatkan kapasitas layanan. KAI Commuter menargetkan pengadaan 30 rangkaian KRL baru dengan anggaran Rp5 triliun, serta tambahan 10 rangkaian yang diproduksi oleh PT INKA dan CRRC Qingdao Sifang. Penambahan ini akan memungkinkan penggunaan kereta berkapasitas 12 gerbong, yang diproyeksikan menyerap lebih banyak penumpang pada jalur Bogor‑Bandung.

  • Stasiun Ciomas Rancamaya dijadikan akses baru untuk memperpendek waktu tempuh Bogor‑Bandung.
  • Pembangunan rumah susun terintegrasi di sekitar stasiun guna mendukung kebutuhan perumahan.
  • Penutupan perlintasan sebidang di MA Salmun dengan pembangunan JPO sebagai solusi sementara.
  • Pembangunan underpass di Kebon Pedes untuk mengurangi konflik lintas jalur.
  • Penutupan peron 6‑8 Stasiun Bogor dan penyediaan akses alternatif melalui JPO Paledang.
  • Pengadaan 30 rangkaian KRL baru serta 10 rangkaian tambahan untuk meningkatkan kapasitas layanan.

Implementasi proyek‑proyek ini diharapkan tidak hanya mempercepat konektivitas antar kota, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, dan KAI Commuter menjadi kunci utama dalam mewujudkan jaringan perkeretaapian Bogor‑Bandung yang terintegrasi, berkelanjutan, dan mampu menanggapi pertumbuhan mobilitas wilayah.

Secara keseluruhan, langkah‑langkah strategis ini menandai komitmen kuat Pemkot Bogor untuk menjadikan Stasiun Ciomas Rancamaya sebagai gerbang utama yang menghubungkan wilayah selatan Jawa Barat dengan pusat ekonomi dan pendidikan di Bandung. Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, warga Bogor dapat menikmati perjalanan yang lebih cepat, aman, dan nyaman menuju Bandung, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional melalui mobilitas yang lebih efisien.

Dengan terwujudnya fasilitas baru, termasuk JPO, underpass, dan sky bridge, serta peningkatan armada KRL, jaringan kereta di wilayah ini akan menjadi contoh pengembangan infrastruktur transportasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi proyek serupa di daerah lain, memperkuat posisi Jawa Barat sebagai poros transportasi utama di Pulau Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *