Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 07 Mei 2026 | Serangan Rusia menewaskan 22 orang pada Selasa malam, beberapa jam sebelum gencatan senjata yang dijanjikan oleh kedua belah pihak. Serangan ini menghantam tiga kota utama di Ukraina—Zaporizhzhia, Kramatorsk, dan Dnipro—dan memicu kecaman tajam dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menuduh Moskow melakukan “sinisme total”.
Di Zaporizhzhia, kota industri strategis di selatan, serangan rudal dan drone menewaskan 12 warga sipil serta melukai puluhan lainnya. Bangunan apartemen, fasilitas energi, dan infrastruktur sipil hancur, menambah beban humaniter di wilayah yang sudah berada di garis depan pertempuran. Di Kramatorsk, pusat kota timur Ukraina, serangan presisi menewaskan lima orang, termasuk seorang pekerja medis, dan melukai lebih dari sepuluh warga. Dnipro, kota besar di tepi Dnipro, menjadi target pada malam hari; empat korban tewas dan delapan orang terluka akibat serangan yang menimpa area pemukiman padat.
Berikut rangkuman korban jiwa dan luka-luka menurut data resmi Ukraina:
- Zaporizhzhia: 12 tewas, 20 luka-luka
- Kramatorsk: 5 tewas, 15 luka-luka
- Dnipro: 4 tewas, 15 luka-luka
- Total keseluruhan: 22 tewas, lebih dari 70 luka-luka
Zelensky menegaskan bahwa “nyawa manusia jauh lebih berharga daripada perayaan apa pun” dan menyerukan agar sekutu internasional bersama mengecam tindakan Rusia. Ia menambahkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan Ukraina pada 6 Mei hanya bersifat sementara dan tidak dapat menggantikan kebutuhan akan perdamaian berkelanjutan. Presiden menuduh Rusia menggunakan gencatan senjata yang dijadwalkan pada 8‑9 Mei, bertepatan dengan peringatan Hari Kemenangan Perang Dunia II, sebagai kedok untuk melanjutkan operasi militer.
Sementara itu, pihak Rusia mengumumkan niatnya untuk menghentikan tembakan pada tanggal 8‑9 Mei sebagai penghormatan kepada peringatan historis tersebut. Namun, Menteri Pertahanan Rusia memperingatkan akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” jika perayaan tersebut terganggu, termasuk kemungkinan serangan balasan berskala besar. Permintaan Moskow agar Ukraina menyetujui gencatan senjata penuh selama peringatan tersebut ditolak keras oleh Kyiv, yang menilai hal itu sebagai taktik untuk mengurangi tekanan internasional.
Reaksi internasional muncul dalam bentuk pernyataan dukungan kepada Ukraina. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan pentingnya menegakkan hukum humaniter dan mengutuk setiap serangan yang menargetkan sipil. Uni Eropa juga mengumumkan paket bantuan darurat untuk korban sipil, termasuk bantuan medis dan dukungan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan.
Analisis para pengamat militer menunjukkan bahwa serangan ini merupakan upaya Rusia untuk menunjukkan kekuatan menjelang gencatan senjata, sekaligus menguji respon komunitas internasional. Dengan menargetkan fasilitas energi di Poltava dan Kharkiv, Moskow tampaknya berusaha melemahkan ketahanan sipil Ukraina menjelang perayaan yang diharapkan menjadi momen politik penting.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menambah tekanan pada proses perdamaian yang sudah rapuh. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, risiko eskalasi tetap tinggi, terutama bila kedua pihak tetap berpegang pada klaim strategis masing-masing. Komunitas internasional diharapkan dapat memfasilitasi dialog yang konstruktif dan memastikan perlindungan bagi warga sipil yang terus menjadi korban dalam konflik yang berlangsung lama ini.
