Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Teheran mengeluarkan pernyataan tegas pada Kamis, 9 April 2026, bahwa Israel akan dikenai hukuman atas serangan udara yang menewaskan ratusan warga sipil di Lebanon. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah perjanjian gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan. Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan setidaknya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka akibat pengeboman di kawasan padat penduduk, termasuk pusat kota Beirut, Lembah Bekaa, dan selatan negara itu.
Pejabat senior Iran yang berbicara kepada Al Jazeera menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Israel tidak dapat dibiarkan begitu saja. “Gencatan senjata mencakup seluruh wilayah, dan Israel dikenal sering melanggar janji. Mereka hanya bisa ditakuti oleh peluru,” katanya. Komandan Kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Jenderal Seyed Majid Mousavi, menambahkan bahwa serangan ke Lebanon dianggap setara dengan menyerang wilayah Iran sendiri.
Respons militer Israel dipaparkan sebagai operasi terkoordinasi terbesar sejak dimulainya kembali konflik pada 2 Maret 2026. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa target utama adalah infrastruktur milik Hezbollah, namun mengakui bahwa sebagian besar serangan mengenai area sipil. “Ini adalah pukulan terbesar terhadap Hizbullah sejak operasi besar tahun 2024,” ujar Katz dalam sebuah konferensi pers.
Di sisi lain, Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menggambarkan situasi sebagai eskalasi berbahaya. “Ambulans masih terus mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon,” katanya kepada Al Jazeera. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang, sementara Perdana Menteri Nawaf Salam menuduh Israel mengabaikan hukum internasional secara total.
Iran menegaskan bahwa responsnya tidak akan terbatas pada pernyataan diplomatik. Sebuah pernyataan resmi Garda Revolusi menegaskan bahwa Iran siap memberikan balasan militer jika Israel tidak menghentikan agresi. “Kami mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutu Zionisnya: jika agresi terhadap Lebanon tidak segera berhenti, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan balasan,” kata juru bicara Garda Revolusi dalam siaran televisi pemerintah.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menambahkan bahwa penghentian serangan di Lebanon merupakan syarat utama dalam perjanjian damai antara Teheran dan Washington. “Kesepakatan damai dengan AS mencakup perlindungan kedaulatan wilayah Lebanon. Pelanggaran terhadap gencatan senjata ini tidak dapat diterima,” ujarnya.
Reaksi internasional beragam. Irak mengutuk keras serangan Israel, menuduhnya berupaya menggagalkan gencatan senjata dua minggu yang disepakati. Sementara itu, sejumlah negara Barat menekankan pentingnya menahan eskalasi lebih lanjut dan menyerukan investigasi independen terhadap dugaan pelanggaran hukum humaniter.
Analisis para pakar geopolitik menyoroti bahwa ancaman Iran dapat memperdalam ketegangan regional. Jika Iran memilih menanggapi dengan serangan balasan, wilayah Teluk, termasuk Selat Hormuz, berisiko menjadi arena baru konflik. Namun, pejabat Iran juga menekankan bahwa tindakan mereka akan bersifat proporsional dan berfokus pada menegakkan hak Lebanon atas kedaulatan.
Ketegangan ini muncul di tengah upaya internasional untuk menstabilkan kawasan setelah serangkaian konflik bersenjata yang melibatkan Hezbollah, Israel, dan pasukan sekutu Amerika Serikat. Gencatan senjata yang baru saja disepakati diharapkan menjadi langkah awal menuju perdamaian, namun serangan Israel pada 8 April 2026 menguji komitmen semua pihak.
Dengan ribuan warga sipil terluka dan puluhan ratus meninggal, tekanan internasional untuk menghentikan kekerasan semakin kuat. Iran, yang menempatkan diri sebagai pelindung Lebanon dan pendukung Hezbollah, kini berada di persimpangan antara diplomasi dan aksi militer. Apa langkah selanjutnya akan sangat mempengaruhi dinamika keamanan Timur Tengah dalam beberapa minggu mendatang.
