Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 07 Mei 2026 | Delegasi Vietnam General Confederation of Labour (VGCL) tiba di Jakarta pada Rabu, 6 Mei 2026 untuk melakukan kunjungan kerja resmi ke Indonesia. Kunjungan ini difokuskan pada penguatan kerja sama antara VGCL dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) dalam rangka memperkuat solidaritas buruh di kawasan ASEAN.
Pertemuan utama berlangsung di kantor ASEAN Trade Union Council (ASEAN TUC), yang dipimpin sekaligus dipresideni oleh Andi Gani Nena Wea, Presiden KSPSI. Dalam pertemuan tersebut, Andi Gani menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk meningkatkan perlindungan hak-hak pekerja serta kesejahteraan buruh. “Kunjungan VGCL ini sangat strategis dalam mempererat hubungan serikat pekerja di kawasan ASEAN. Kita ingin memastikan perlindungan dan kesejahteraan buruh terus meningkat melalui kolaborasi lintas negara,” ujarnya.
Delegasi VGCL dipimpin oleh Phan Van Anh, Vice President of VGCL dan Head of Delegation. Anggota rombongan termasuk Mai Le Loi, Presiden Vietnam National Union of Maritime, Tran Thi Mai Huong, Ketua Dewan Direksi Vietnam Trade Union Printing Company, serta pejabat lain dari Department of General Affairs. Mereka juga mengunjungi Dewan Eksekutif Nasional (DEN) KSBSI, Kementerian Ketenagakerjaan, dan pabrik sepatu PT Adis di Tangerang untuk meninjau kondisi industri secara langsung.
Selain diskusi kebijakan, kedua konfederasi menandatangani nota kesepahaman yang mencakup pertukaran program pendidikan dan pelatihan. KSPSI akan mengirim sejumlah pengurusnya ke universitas milik VGCL di Ho Chi Minh City untuk menempuh pendidikan terkait perburuhan, sementara VGCL berjanji mengirimkan delegasi ke Pusat Pendidikan dan Pelatihan KSPSI di Indonesia. “Pertukaran pendidikan tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkuat kapasitas kader serikat pekerja di kedua negara,” kata Andi Gani.
Pembahasan tidak lepas dari tantangan yang dihadapi sektor industri Indonesia. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa tekanan global—termasuk konflik di Timur Tengah—dapat memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, khususnya di industri tekstil, plastik, dan semen. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara dan industri Indonesia memiliki daya tahan yang kuat.
Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), yang dipimpin oleh Presiden Said Iqbal, juga mengingatkan ancaman PHK yang dirasakan oleh anggotanya. Menurut Iqbal, sektor tekstil dan produk turunannya menjadi yang paling terancam, diikuti oleh industri plastik yang menghadapi kenaikan harga bahan baku impor, serta industri semen yang mengalami oversupply. “Solidaritas buruh internasional harus terus diperkuat. Dengan bersatu, kita bisa memperjuangkan hak-hak pekerja secara lebih efektif,” pungkasnya.
Dalam konteks regional, VGCL mengusulkan agar Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN TUC dilaksanakan di Vietnam pada tahun ini, sebuah usulan yang disambut positif oleh Andi Gani. Jika terealisasi, pertemuan tersebut dapat menjadi ajang penting bagi para pemimpin serikat pekerja di Asia Tenggara untuk menetapkan agenda bersama, termasuk pengembangan sumber daya manusia, perlindungan hak pekerja migran, serta kebijakan upah minimum yang adil.
Secara keseluruhan, kunjungan VGCL ke Indonesia menandai babak baru dalam hubungan bilateral antara dua konfederasi buruh terbesar di Asia Tenggara. Melalui pertukaran pengetahuan, pelatihan, dan dialog kebijakan, diharapkan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia dapat meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi tantangan global, sekaligus memperkuat jaringan solidaritas yang mendukung kesejahteraan seluruh pekerja di kawasan.
