Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 24 April 2026 | Berlin mengumumkan paket kebijakan pertahanan yang belum pernah terjadi sejak akhir Perang Dunia II. Dalam rangka menanggapi dinamika geopolitik di Eropa, Jerman menyiapkan Anggaran 100 Miliar Euro untuk memperkuat modernisasi militer, menambah personel, serta memperluas kemampuan teknologi tanpa awak. Keputusan ini memicu reaksi keras dari Kremlin, yang menilai langkah tersebut dapat meningkatkan ketegangan di kawasan.
Jerman secara resmi mengadopsi strategi pertahanan baru yang menempatkan Rusia sebagai ancaman utama bagi keamanan Eropa. Menteri Pertahanan Boris Pistorius menegaskan bahwa Moskow terus meningkatkan persenjataan dan memandang penggunaan kekuatan militer sebagai alat sah untuk mencapai kepentingan strategisnya. “Rusia sedang mempersiapkan konfrontasi militer dengan NATO,” kata Pistorius dalam konferensi pers di Berlin, menambahkan bahwa Rusia berusaha memutuskan hubungan antara Eropa dan Amerika Serikat.
Untuk menanggapi ancaman tersebut, Jerman menargetkan transformasi signifikan pada angkatan bersenjatanya. Dalam dekade ke depan, Bundeswehr diharapkan memiliki hingga 460.000 personel, termasuk sekitar 260.000 tentara aktif dan 200.000 pasukan cadangan pada tahun 2035. Saat ini, jumlah personel aktif berkisar 186.000, sehingga peningkatan tersebut menuntut perekrutan besar-besaran serta pelatihan intensif.
Anggaran 100 Miliar Euro yang dialokasikan untuk tahun 2026 mencakup tiga pilar utama: peningkatan jumlah personel, modernisasi peralatan, dan pengembangan sistem tanpa awak. Di antara proyek teknologi terbaru, Jerman berencana mengembangkan drone laut dan sistem UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang dapat beroperasi dalam skenario perang modern, termasuk pengawasan, penyerangan, dan dukungan logistik.
- Personel: Penambahan 274.000 personel melalui rekrutmen baru dan program cadangan.
- Teknologi: Investasi pada drone laut, UAV, serta sistem pertahanan udara berbasis jaringan.
- Infrastruktur: Pembangunan pangkalan militer baru dan modernisasi fasilitas logistik.
Reaksi Kremlin tidak kalah tajam. Juru bicara Dmitry Peskov memperingatkan bahwa kebijakan Jerman dapat memicu “kekhawatiran” di seluruh Eropa. “Yang terpenting adalah Berlin tidak menyeret negara‑negara lain ke jalan yang sama seperti yang telah ditempuhnya beberapa kali dalam sejarah,” tegas Peskov. Ia menambahkan bahwa masyarakat Eropa mungkin akan “merinding” ketika menyadari implikasi geopolitik dari rencana tersebut.
Pistorius menanggapi pernyataan Peskov dengan menekankan bahwa Jerman tidak bermaksud menimbulkan perlombaan senjata, melainkan memperkuat pertahanan kolektif NATO. Ia menyoroti pentingnya kemandirian pertahanan Eropa di tengah ketidakpastian hubungan trans‑Atlantik, terutama setelah gangguan pasokan energi yang baru-baru ini terjadi ketika Rusia menghentikan aliran minyak Kazakhstan ke Eropa.
Langkah Jerman juga sejalan dengan tren global di mana negara‑negara Barat meningkatkan belanja pertahanan untuk menghadapi ancaman hybrid, termasuk serangan siber, operasi informasi, dan penggunaan drone. Dengan mengalokasikan Anggaran 100 Miliar Euro, Berlin berharap dapat menutup kesenjangan teknologi yang selama ini menghambat kemampuan operasional Bundeswehr.
Secara keseluruhan, kebijakan baru ini mencerminkan perubahan paradigma keamanan di Eropa. Sementara Jerman menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan konflik konvensional, fokusnya juga meluas ke area-aspek non‑konvensional seperti pertarungan di ruang siber dan laut. Keputusan tersebut menegaskan komitmen Berlin untuk menjadi pemain utama dalam arsitektur pertahanan Eropa, sekaligus menantang Rusia untuk menilai kembali strategi militernya.
Dengan anggaran yang signifikan, target personel ambisius, dan investasi pada teknologi canggih, Jerman menyiapkan fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan keamanan di abad ke‑21. Namun, apakah langkah ini akan meredakan ketegangan atau justru memperuncing konfrontasi antara Barat dan Timur, masih menjadi pertanyaan besar yang menunggu jawabannya.
