Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler β 22 Juni 2026 | Setelah diharubiru oleh perang lebih dari tiga bulan, akhirnya Amerika Serikat dan Iran mau duduk bersama dan menyepakati untuk menghentikan saling serang. Penandatanganan itu akhirnya dilakukan pada 17 Juni lalu.
Banyak pihak menyambut langkah tersebut sebagai terobosan diplomatik yang berpotensi mengurangi risiko eskalasi di kawasan yang selama beberapa dekade menjadi salah satu titik paling rawan dalam politik global.
Namun di balik optimisme tersebut, masih terdapat pertanyaan mendasar: apakah kesepakatan itu benar-benar menjadi awal dari perdamaian yang berkelanjutan, atau hanya jeda sementara sebelum pecah konflik yang lebih besar dan lebih kompleks?
Di Timur Tengah, keberhasilan suatu perjanjian sering kali tidak hanya ditentukan oleh para pihak yang menandatanganinya, tetapi juga oleh aktor-aktor lain yang memiliki kepentingan langsung terhadap hasil perundingan.
Vice President JD Vance mengatakan bahwa ada kesempatan untuk “membalik halaman baru” dengan Iran saat negosiasi berlangsung untuk membangun kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang di Iran yang dicapai oleh kedua belah pihak minggu lalu.
Namun, Presiden Donald Trump mengancam akan memulai kembali serangan terhadap Iran jika negara itu tidak segera menghentikan dukungan terhadap militia Hezbollah di Lebanon atau jika Iran berusaha menutup Selat Hormuz yang strategis.
Vance dan tim negosiasi AS bertemu dengan juru bicara parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di sebuah resor pegunungan Swiss dekat Danau Lucerne.
Perundingan tersebut berlangsung sekitar 80 menit, dan tim negosiasi AS juga mengadakan pertemuan pribadi dengan pejabat Pakistan dan Qatar.
AS berusaha untuk mendesak Iran agar terlibat dalam negosiasi tentang program nuklirnya, karena khawatir bahwa program tersebut dapat digunakan untuk tujuan militer, yang dibantah oleh Iran.
Vance juga mendesak Iran untuk berkomitmen menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, sebuah jalur air yang kritis yang dilalui sekitar seperlima dari minyak yang diperdagangkan di dunia.
Namun, pernyataan Trump dari jauh tampaknya mengancam untuk menggagalkan negosiasi tersebut.
“Mereka akan melakukan lebih baik jika lebih berhati-hati tentang pernyataan mereka,” tulis Qalibaf di media sosial.
“Pasukan bersenjata kami siap untuk merespons mereka dengan cara yang berbeda. Mereka bisa terus berbicara, tetapi kami yang akan bertindak.”
Kesepakatan antara AS dan Iran masih dalam tahap awal, dan masih banyak tantangan yang harus diatasi sebelum perdamaian yang berkelanjutan dapat tercapai.
Oleh karena itu, perlu diingat bahwa perang AS-Iran masih dapat berlanjut jika kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan yang memuaskan.
