Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | KompasTV mengungkap rekaman terbaru yang menunjukkan serangkaian operasi militer gabungan antara unit darat dan udara Israel di wilayah selatan Lebanon. Operasi yang dipimpin oleh Brigade Parasut di bawah Divisi ke-98 ini dilaksanakan pekan lalu dan ditujukan untuk menghancurkan posisi-posisi yang diduga berafiliasi dengan Hizbullah.
Menurut keterangan militer Israel, pasukan mereka melakukan manuver darat terkoordinasi bersamaan dengan serangan udara yang menargetkan gudang senjata serta pos-pos militer di sekitar kota Nabatieh. Dalam prosesnya, militer Israel mengklaim menemukan dan menghancurkan sejumlah besar persediaan senjata milik kelompok bersenjata tersebut serta menewaskan puluhan anggota Hizbullah.
Serangan udara yang dilancarkan pesawat tempur Israel menimbulkan kehancuran signifikan di markas Hizbullah di Nabatieh. Pada Sabtu, ratusan warga Lebanon berkumpul di Sidon untuk menyaksikan prosesi pemakaman 13 anggota pasukan keamanan Lebanon yang tewas dalam serangan tersebut. Keluarga korban, termasuk ibu, istri, dan anak-anak, membawa peti mati yang dibungkus foto-foto kenangan, menambah kesedihan yang meluas.
Di ibu kota Beirut, ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes rencana negosiasi Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dengan Israel. Demonstrasi tersebut menyoroti ketegangan politik internal Lebanon yang semakin memanas akibat tekanan eksternal. Sebuah peringatan juga datang dari penasihat pemimpin tertinggi Iran untuk urusan internasional, yang menegaskan agar Lebanon tidak mengesampingkan peran Hizbullah dalam setiap pembicaraan damai.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengonfirmasi bahwa pertemuan negosiasi pertama antara kedua negara akan digelar di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada hari Selasa mendatang. Pertemuan ini diharapkan menjadi forum untuk membahas gencatan senjata yang dimediasi oleh AS, meskipun skeptisisme publik tetap tinggi mengingat sejarah konflik yang berlarut-larut.
Analisis militer menilai bahwa operasi gabungan darat-udara ini menandai perubahan taktik Israel yang sebelumnya lebih mengandalkan serangan udara tunggal. Brigade Parasut yang terlibat dikenal memiliki kemampuan infiltrasi cepat dan pengintaian intensif, memungkinkan mereka menembus wilayah perbatasan Lebanon dengan relatif aman sebelum melancarkan serangan udara yang presisi.
Reaksi internasional beragam. Beberapa negara Barat menyuarakan keprihatinan atas peningkatan korban sipil, sementara sekutu Israel menegaskan hak negara tersebut untuk mempertahankan diri melawan ancaman teroris. Di sisi lain, organisasi hak asasi manusia menuntut penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran hukum humaniter dalam serangan yang menewaskan personel keamanan Lebanon.
Dengan latar belakang negosiasi yang sedang berlangsung, situasi di perbatasan Israel-Lebanon tetap tegang. Kedua belah pihak tampaknya masih berada pada posisi yang saling menuntut, dimana Israel menuntut penghentian aktivitas militer Hizbullah, sementara Lebanon menuntut pengakuan kedaulatan dan penghentian serangan udara yang dianggap melanggar kedaulatan negara.
Ke depan, dunia menantikan hasil pertemuan yang dijadwalkan di AS. Apakah gencatan senjata akan tercapai atau justru menambah eskalasi lebih luas, masih menjadi pertanyaan besar yang mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
