Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 01 Mei 2026 | Pentagon pada Rabu (30 April 2026) mengumumkan estimasi resmi pertama terkait total biaya yang telah dikeluarkan Amerika Serikat dalam konflik militer melawan Iran. Menurut pejabat senior Departemen Pertahanan, Jules “Jay” Hurst III, angka tersebut mencapai US$25 miliar atau setara dengan sekitar Rp400 triliun. Angka ini pertama kali disampaikan dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata di Capitol Hill, tepat saat tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump semakin menguat menjelang pemilu paruh waktu.
Hurst menjelaskan bahwa mayoritas dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan amunisi, termasuk rudal, drone, serta persediaan logistik lainnya. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut apakah biaya tersebut sudah mencakup kerusakan infrastruktur militer di Timur Tengah, seperti pangkalan di Bahrain, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar yang dilaporkan rusak parah akibat serangan balasan Iran.
Pengungkapan ini memicu reaksi keras dari anggota Kongres, terutama dari Partai Demokrat. Adam Smith, anggota DPR dari Washington, menanggapi dengan nada puas, “Saya senang Anda akhirnya menjawab pertanyaan itu. Kami sudah menanyakannya sejak lama, dan tidak ada yang mau memberikan angka pasti.” Kritik serupa juga datang dari Senator Elizabeth Warren yang menilai perang ini “dilancarkan tanpa strategi yang jelas” dan menuntut transparansi penuh mengenai pengeluaran militer.
Di sisi lain, Senator independen Bernie Sanders mengingatkan bahwa angka US$25 miliar jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan total biaya yang dapat mencapai US$1 triliun jika semua kerusakan infrastruktur dan biaya operasional jangka panjang dimasukkan. Sanders menyoroti bahwa konflik di Irak dan Afghanistan masing‑masing menelan biaya lebih dari US$2 triliun, sehingga potensi beban keuangan dari perang ini dapat melampaui batas yang dapat diterima oleh publik Amerika.
Beberapa analis independen, termasuk laporan dari CNN dan Reuters, mengindikasikan bahwa angka resmi Pentagon mungkin hanya mencakup sebagian kecil dari total beban. Jika biaya rekonstruksi pangkalan militer dan penggantian aset yang hancur dihitung, total pengeluaran bisa naik menjadi US$40‑50 miliar, atau antara Rp640‑800 triliun.
Perbandingan dengan anggaran tahunan badan antariksa NASA juga menjadi sorotan. Biaya US$25 miliar setara dengan total dana yang dialokasikan NASA untuk seluruh programnya dalam satu tahun, menimbulkan pertanyaan tentang prioritas alokasi anggaran nasional di tengah krisis energi dan inflasi yang meningkat di Amerika Serikat.
Secara ekonomi, konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah menimbulkan dampak signifikan. Harga bahan bakar dan kebutuhan pokok naik, sementara dukungan publik terhadap Presiden Trump menurun drastis menjadi 34 persen, menurut survei Reuters/Ipsos. Para pengamat menilai bahwa beban finansial yang besar dapat memperparah ketegangan politik domestik, terutama menjelang pemilihan tengah periode.
Selain tekanan politik, konflik ini juga menimbulkan konsekuensi militer yang signifikan. Iran melancarkan lebih dari 100 gelombang operasi bernama “True Promise 4”, menembakkan ratusan rudal balistik, hipersonik, dan drone ke target strategis AS dan sekutunya. Beberapa instalasi penting, seperti sistem radar THAAD di Yordania dan fasilitas militer di Uni Emirat Arab, dilaporkan rusak parah.
Dalam konteks internasional, keterlibatan Israel bersama AS menambah kompleksitas geopolitik di kawasan Teluk Persia. Sementara itu, pernyataan keras dari pejabat militer Iran menegaskan bahwa konflik belum berakhir, sehingga potensi biaya tambahan masih sangat mungkin muncul.
Kesimpulannya, pengungkapan biaya resmi Pentagon menyoroti besarnya beban finansial yang harus ditanggung oleh pembayar pajak Amerika. Meskipun US$25 miliar terdengar besar, banyak pihak memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi bila seluruh kerusakan dan biaya operasional jangka panjang dimasukkan. Pertanyaan tentang transparansi, akuntabilitas, dan prioritas anggaran menjadi semakin mendesak di tengah dinamika politik domestik dan tekanan internasional yang terus berkembang.
