Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Mei 2026 | Derby Andalas kembali menjadi sorotan utama Liga 2 pada pekan ini ketika Persiraja Banda Aceh menjamu PSMS Medan di Stadion Dimurthala. Pertandingan yang dipenuhi antusiasme pendukung dari kedua kubu ini tidak hanya menambah intensitas persaingan, tetapi juga menyuguhkan sejumlah insiden dramatis yang membuat para pengamat sepak bola terkesima.
Sejak awal, keamanan menjadi prioritas. Aparat kepolisian berseragam lengkap dan dilengkapi senjata mengawal stadion, mengantisipasi potensi kerusuhan yang kerap mewarnai pertemuan kedua tim. Suasana tegang terasa jelas di tribun, dengan ribuan suporter mengibarkan bendera dan menyuarakan dukungan mereka.
Pertandingan dimulai dengan tempo tinggi. PSMS membuka skor pada menit ke-23 melalui serangan balik cepat, memanfaatkan celah di lini belakang Persiraja. Gol tersebut menambah keunggulan PSMS, yang hingga saat itu masih memimpin klasemen grup. Namun, Persiraja tidak tinggal diam. Pada menit ke-38, serangan balik dari sisi kiri berhasil menembus pertahanan PSMS, namun tendangan akhir tidak berhasil menembus mistar gawang.
Memasuki babak kedua, ketegangan semakin memuncak. Insiden pertama muncul ketika dua pemain Persiraja terlibat adu mulut di area tengah lapangan, memicu intervensi aparat keamanan yang segera memisahkan mereka. Situasi hampir bereskalasi menjadi perkelahian fisik, namun berhasil dikendalikan sebelum menimbulkan gangguan serius.
Detik-detik krusial terjadi pada menit ke-67 ketika wasit memberi sinyal penalti kepada Persiraja setelah pemain PSMS diduga melakukan pelanggaran di dalam kotak penalti. Namun, keputusan tersebut segera dipertanyakan ketika VAR (Video Assistant Referee) melakukan review. Setelah beberapa menit peninjauan, VAR mengkonfirmasi bahwa pelanggaran tidak cukup jelas, sehingga penalti dicabut. Keputusan ini menimbulkan protes keras dari pemain Persiraja, terutama pemain tengah Omid‑Connor yang menyatakan kekecewaannya secara terbuka.
Tak lama kemudian, pada menit ke-79, situasi kembali berubah drastis. VAR kembali terlibat setelah terjadi tabrakan di dalam area penalti yang melibatkan dua pemain dari masing-masing tim. Hasilnya, wasit menyalakan dua penalti sekaligus—satu untuk Persiraja dan satu untuk PSMS—yang merupakan kejadian langka dalam sejarah kompetisi ini. Kedua tendangan eksekusi berhasil dimenangkan, menutup skor menjadi 1-1. Keputusan twin penalti ini menimbulkan perdebatan sengit di antara pengamat, mengingat konsistensi penggunaan VAR masih dipertanyakan.
Pelatih Persiraja, yang tetap anonim hingga saat ini, menyampaikan rasa heran atas keputusan yang diambil, khususnya terkait pemain Omid‑Connor. “Saya tidak mengerti mengapa VAR memutuskan untuk memberi penalti ganda, terutama setelah sebelumnya menolak penalti pertama. Keputusan ini mengubah dinamika pertandingan,” ujarnya dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Berikut rangkuman poin penting dalam pertandingan:
- Penjagaan keamanan ketat dengan aparat bersenjata.
- PSMS unggul duluan, namun Persiraja menyamakan kedudukan lewat twin penalti.
- VAR menjadi sorotan utama, menimbulkan kontroversi keputusan penalti.
- Omid‑Connor menjadi tokoh yang mengekspresikan kekecewaan atas keputusan wasit.
- Hasil akhir 1-1 menjaga PSMS tetap superior dalam klasemen grup musim ini.
Dengan hasil imbang ini, PSMS Medan masih memimpin grup, sementara Persiraja harus mengandalkan poin selanjutnya untuk memperbaiki posisi mereka. Kedua tim kini menatap laga berikutnya dengan harapan menghindari kontroversi serupa dan mengukir kemenangan yang lebih konsisten.
Derby Andalas kembali membuktikan bahwa persaingan sepak bola di level Liga 2 tidak kalah sengitnya dengan kompetisi tingkat atas. Kejadian-kejadian di atas lapangan menegaskan pentingnya penggunaan teknologi VAR yang akurat serta perlunya regulasi yang lebih tegas dalam menangani situasi keamanan selama pertandingan.
