Menabung Rp10 Ribu Sehari, Pasutri Penjual Tempe Capai Impian Haji Setelah 14 Tahun Penantian

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 25 April 2026 | Pasangan suami istri asal Pasuruan, Jawa Timur, yang selama lebih dari satu dekade menabung Rp10 ribu tiap hari dari usaha tempe, akhirnya menginjak gerbang Tanah Suci. Kisah mereka menjadi contoh nyata ketekunan, doa, dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan ekonomi serta kehilangan.

Suami, Abdul (68), dan istri, Siti (65), menjalankan warung tempe sederhana di pinggir jalan Kecamatan Bugul Kidul. Dengan modal awal hanya sekadar gerobak kayu dan dandang tempe, mereka memulai usaha pada awal tahun 2010. Pendapatan harian rata‑rata berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp60 ribu tergantung musim dan penjualan di pasar tradisional.

Baca juga:

Meski penghasilan tidak selalu stabil, pasangan ini memutuskan untuk menyisihkan Rp10 ribu setiap hari demi satu tujuan mulia: menunaikan ibadah haji. “Kami tidak pernah membiarkan rasa lelah menghalangi niat kami,” kata Abdul sambil mengingat kembali pagi‑pagi ketika ia harus bangun pukul empat untuk menyiapkan tempe, sementara Siti mengurus rumah dan membantu penjualan.

Strategi menabung mereka sederhana namun disiplin. Setiap kali uang tunai terkumpul, mereka menaruh Rp10 ribu ke dalam amplop berlabel “Haji” dan menyimpannya di dalam kotak besi kecil yang terkunci. Selama 14 tahun, total tabungan mencapai lebih dari Rp5,1 juta, cukup untuk menutupi biaya pendaftaran haji, tiket pesawat, serta perlengkapan ibadah.

Berikut rangkaian langkah yang mereka tempuh selama perjalanan panjang tersebut:

  • 2010 – Mulai usaha tempe dan menetapkan target menabung Rp10 ribu per hari.
  • 2012 – Bergabung dengan arisan warga untuk menambah dana tambahan, rata‑rata Rp80 ribu per minggu.
  • 2015 – Mengajukan pendaftaran haji pertama kali, namun belum memenuhi syarat finansial.
  • 2017 – Menyelesaikan setoran awal Rp25 juta setelah mengumpulkan dana tambahan melalui penjualan tempe, arisan, dan sumbangan kecil dari tetangga.
  • 2022 – Menghadiri pelatihan calon jamaah haji di kantor Kementerian Agama setempat.
  • 2026 – Diterima dalam kloter 10 Embarkasi Surabaya, resmi mendapatkan kartu nusuk dan ID card haji.

Selama menunggu, pasangan ini juga harus mengatasi beban emosional. Pada tahun 2014, suami kehilangan ayahnya, dan pada 2018, istri kehilangan cucu pertama. Namun, mereka tetap berpegang pada keyakinan bahwa setiap cobaan adalah ujian iman yang harus dilalui dengan sabar.

Kehidupan sehari‑hari mereka tidak jauh berbeda dengan pedagang kecil lainnya. Siti mengelola dandang tempe, memastikan fermentasi tepat, sementara Abdul berkeliling menjual produk ke warung‑warung dan pasar tradisional. Pada hari‑hari pasar ramai, pendapatan bisa mencapai Rp70 ribu, namun mereka tetap menahan diri untuk tidak melampaui batas menabung harian.

Keberangkatan mereka pada 24 April 2026 diikuti oleh putri bungsu mereka, Nurul (38), yang berperan sebagai mahram. Kedatangan Nurul tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga menegaskan nilai kebersamaan keluarga dalam menunaikan rukun Islam kelima.

Di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pasangan ini tampak bersemangat. Seragam haji lengkap, ID card, serta kartu nusuk terpasang rapi di dada mereka. “Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata setelah menunggu selama 14 tahun,” ungkap Siti sambil menahan air mata haru.

Kisah mereka menjadi inspirasi bagi banyak warga Pasuruan dan sekitarnya. Warga setempat mulai meniru pola menabung harian, meski dengan nominal yang lebih kecil, sebagai bukti bahwa tekad dan konsistensi dapat mengubah nasib.

Secara ekonomi, cerita ini menunjukkan pentingnya kebiasaan menabung dalam skala mikro untuk mencapai tujuan jangka panjang. Dengan menabung Rp10 ribu tiap hari, pasangan ini berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp5 juta, yang secara signifikan menurunkan beban biaya haji yang biasanya mencapai puluhan juta rupiah.

Di akhir perjalanan, Abdul dan Siti berharap dapat melaksanakan ibadah haji dengan khusyuk, memohon kesehatan bagi keluarga, serta kembali ke tanah air dengan hati yang bersih. Mereka juga berdoa agar generasi selanjutnya dapat melanjutkan tradisi menabung dan menunaikan ibadah dengan penuh rasa syukur.

Kesimpulannya, menabung Rp10 ribu tiap hari selama 14 tahun membuktikan bahwa disiplin finansial, doa, dan dukungan keluarga dapat mewujudkan impian haji, bahkan bagi pasangan pedagang tempe yang hidup sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *