Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 01 Mei 2026 | Sejak dimulainya operasi pemberangkatan haji 2026, Embarkasi Solo mencatat peningkatan signifikan pada jumlah jemaah yang harus dipulangkan ke daerah asal. Pada hari ke-10 operasional, total jemaah yang tidak dapat melanjutkan perjalanan mencapai 21 orang, termasuk satu pendamping yang memutuskan menunda keberangkatan. Angka ini menambah kekhawatiran akan kondisi kesehatan lansia serta tantangan logistik penyelenggaraan ibadah haji.
Humas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo, Nabiila Azka Amaalia, menjelaskan bahwa semua jemaah yang dipulangkan telah melewati proses medis di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Dari 21 orang tersebut, enam orang terdiagnosa sakit; tiga dirujuk ke Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi Solo, sementara tiga lainnya menjalani observasi di poliklinik embarkasi. Pendamping yang menunda keberangkatan juga termasuk dalam hitungan tersebut.
Mayoritas jemaah yang dipulangkan berusia lanjut (lansia) dan berasal dari berbagai kloter di Jawa Tengah. Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto, menyoroti kelelahan sebagai faktor utama penurunan kondisi kesehatan, serta penyakit penyerta seperti demensia. Ia menekankan pentingnya mengurangi aktivitas fisik menjelang keberangkatan bagi calon jemaah yang belum memasuki asrama.
Secara keseluruhan, hingga 30 April 2026, Embarkasi Solo telah mengirimkan 26 kloter atau 9.322 orang ke Tanah Suci. Namun, angka 21 jemaah yang dipulangkan menunjukkan persentase kegagalan yang perlu mendapat perhatian khusus, terutama dalam rangka meningkatkan prosedur skrining medis sebelum keberangkatan.
Perbandingan dengan Embarkasi Surabaya
Di sisi lain, Embarkasi Surabaya melaporkan pencapaian yang lebih besar dalam hal jumlah keberangkatan. Hingga hari yang sama, sebanyak 12.140 jemaah telah berangkat dalam 32 kloter, mencakup 5.710 laki-laki dan 6.430 perempuan. Dari total rencana 44.080 jamaah, Surabaya berhasil mengirimkan sekitar 28 persen calon haji.
Namun, Surabaya juga mencatat adanya 10 jemaah yang penanggungannya ditunda, dengan delapan di antaranya karena kondisi kesehatan dan tiga pendamping. Selain itu, terdapat 38 kursi kosong yang disebabkan oleh faktor teknis, perpindahan kloter, dan penundaan lainnya.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun kedua embarkasi berada dalam fase operasional yang sama, tantangan kesehatan terutama pada lansia tetap menjadi isu bersama. Kedua pihak menekankan pentingnya pemantauan intensif serta penyesuaian program kebugaran sebelum jemaah memasuki asrama.
Data Ringkas
| Embarkasi | Total Jemaah Dipulangkan | Jemaah Sakit | Jemaah Tunda | Total Keberangkatan |
|---|---|---|---|---|
| Solo | 21 | 6 | 0 | 9.322 |
| Surabaya | 0 | 8 | 10 | 12.140 |
Dengan data tersebut, otoritas PPIH diharapkan dapat memperkuat mekanisme pemeriksaan medis serta memberikan panduan kebugaran yang lebih ketat bagi calon jemaah, khususnya mereka yang berusia lanjut. Upaya koordinasi antara rumah sakit, poliklinik embarkasi, dan tim medis sangat krusial untuk menurunkan angka pemulangan di masa mendatang.
Secara keseluruhan, situasi ini menjadi pengingat bahwa keberangkatan haji tidak hanya bergantung pada logistik penerbangan, melainkan juga pada kesiapan fisik dan mental jemaah. Pengawasan yang lebih proaktif serta edukasi mengenai persiapan kesehatan dapat menjadi kunci untuk menurunkan jumlah jemaah haji Solo yang dipulangkan dan memastikan ibadah haji berjalan lancar bagi semua peserta.
