Skandal Kecurangan UTBK 2026 Terungkap: Joki, Alat Canggih, dan Sindikat Mengguncang Seleksi Mahasiswa

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 22 April 2026 | Hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 menyajikan temuan mengkhawatirkan yang mengindikasikan keberadaan jaringan kecurangan yang terorganisir. Berbagai modus operandi terdeteksi di lebih dari sepuluh pusat ujian, mulai dari penggunaan joki hingga perangkat teknologi canggih yang disisipkan dalam tubuh peserta. Penemuan ini menimbulkan sorotan tajam pada integritas proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Direktur Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Evi Eliyanah, menegaskan bahwa UTBK harus dilaksanakan secara objektif dan transparan. Ia menambahkan bahwa setiap indikasi pelanggaran, termasuk kasus joki, akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku. “Kami akan menyelidiki secara mendalam dan melaporkan temuan ke panitia pusat SNPMB,” ujar Evi dalam konferensi pers kampus pada Rabu, 22 April 2026.

Baca juga:

Sementara itu, Ketua Tim Penanggung Jawab SNPMB, Prof. Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa pada pukul 09.00 WIB pagi harinya, tim pusat telah menerima laporan kecurangan dari sejumlah pusat UTBK. Ia menyebutkan adanya 2.940 data anomali yang terdeteksi, menandakan skala permasalahan yang signifikan.

Berbagai modus kecurangan yang teridentifikasi meliputi:

  • Perjokian (joki): Peserta yang menggunakan identitas orang lain, bahkan mengganti nama peserta antara tahun 2025 dan 2026. Kasus ini banyak dilaporkan di Unsulbar, Unesa, UM, dan beberapa kampus lainnya.
  • Alat bantu elektronik: Seorang peserta di Universitas Diponegoro (Undip) tertangkap dengan alat bantu dengar yang terpasang dalam telinga, yang kemudian harus diperiksa oleh tim medis THT.
  • Pemalsuan dokumen: Di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ditemukan peserta yang menggunakan ijazah dan dokumen kependudukan palsu, dengan perbedaan foto yang mencurigakan.
  • Modifikasi foto profil: Di UPN Veteran Jawa Timur (UPN VJT), panitia menemukan peserta yang mengubah sedikit foto profil untuk mengelabui sistem face recognition.
  • Penggunaan alat bantu tersembunyi: Di Unsulbar, peserta berusaha menyembunyikan perangkat dalam pakaian, yang berhasil terdeteksi oleh metal detector.

Pengawasan ketat dilakukan oleh tim SNPMB di pusat-pusat ujian utama, termasuk UPNVJT, Unair, Undip, UM, dan Unsulbar. Pemeriksaan identitas peserta, pemindaian logam, serta verifikasi data secara digital menjadi bagian dari protokol keamanan baru yang diterapkan.

Akibat temuan ini, panitia pusat mengumumkan sanksi tegas bagi pelaku kecurangan UTBK 2026. Sanksi meliputi pembatalan hasil ujian, diskualifikasi otomatis, serta masuk ke dalam daftar hitam (blacklist) yang melarang peserta mengikuti seleksi nasional maupun mandiri di masa mendatang. Beberapa perguruan tinggi negeri juga berjanji menutup pintu bagi pelaku yang terkonfirmasi.

Universitas Negeri Malang menegaskan komitmennya untuk menjaga marwah dan integritas pelaksanaan UTBK. Pengawasan tidak hanya dilakukan secara teknis, tetapi juga melalui sosialisasi nilai kejujuran kepada seluruh peserta. “Kejujuran adalah nilai utama yang harus dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan,” tegas Evi.

Selain tindakan administratif, pihak universitas dan SNPMB berkoordinasi untuk meningkatkan kemampuan deteksi kecurangan. Penggunaan teknologi face recognition, analisis data anomali, serta kerja sama dengan aparat keamanan menjadi langkah lanjutan. Diharapkan, dengan peningkatan pengawasan, praktik kecurangan di masa mendatang dapat diminimalisir.

Secara keseluruhan, temuan kecurangan UTBK 2026 menegaskan tantangan serius yang dihadapi dalam menjaga integritas seleksi mahasiswa baru. Upaya kolaboratif antara universitas, panitia SNPMB, dan aparat penegak hukum menjadi kunci untuk memastikan proses seleksi tetap adil, transparan, dan bebas dari praktik curang.

Dengan langkah-langkah tegas yang diambil, diharapkan kepercayaan publik terhadap sistem penerimaan mahasiswa dapat dipulihkan, sekaligus memberikan peringatan kuat bagi pihak-pihak yang berniat melanggar aturan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *