Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 22 April 2026 | Honda Motor Co. resmi menghentikan penjualan e:Ny1 di pasar Eropa setelah hanya tiga tahun beroperasi, sambil bersiap meluncurkan kendaraan listrik berbiaya terjangkau sebagai pengganti. Keputusan ini menandai titik balik signifikan dalam upaya elektrifikasi sang produsen, yang baru-baru ini harus mencatat kerugian impairment senilai 2,5 triliun yen akibat proyek EV yang dibatalkan.
Model e:Ny1 diperkenalkan pada pertengahan 2023 sebagai hasil kolaborasi antara Honda dan Dongfeng Motor Corporation. Mengusung platform listrik dari HR‑V, e:Ny1 ditujukan untuk pasar Eropa yang tengah mengadopsi kendaraan ramah lingkungan secara cepat. Meskipun menampilkan desain modern dan motor listrik 94 hp, mobil ini gagal menarik minat konsumen. Di Jerman, penjualan tahunan hanya mencapai 105 unit, meski harganya sempat dipotong dari €47.590 menjadi €38.990.
Penurunan penjualan memicu langkah strategis Honda untuk menurunkan eksposur model tersebut. Sejumlah negara seperti Jerman, Italia, dan Spanyol sudah menghapus e:Ny1 dari konfigurator resmi, sementara stok tersisa hanya tersedia di Prancis, Austria, Inggris, dan pasar Nordik. Pada saat yang sama, Honda mengumumkan penghentian model e:Ny1 di Eropa sebagai bagian dari evaluasi ulang strategi globalnya, termasuk pembatalan proyek-proyek EV lainnya seperti Acura RSX EV, seri 0, dan kolaborasi dengan Sony Honda Mobility untuk mobil Afeela.
Tekanan keuangan tidak hanya datang dari pasar Eropa. Di Indonesia, penjualan Honda turun 35 persen pada kuartal pertama 2026, mencapai hanya 13.530 unit dibandingkan lebih dari 22.000 unit pada tahun sebelumnya. Penurunan ini bertepatan dengan perubahan regulasi pajak kendaraan listrik yang dikeluarkan melalui Permendagri No. 11/2026. Kebijakan baru menghapus pembebasan pajak 0 persen bagi mobil listrik, menggantinya dengan skema pajak daerah yang bervariasi. Meskipun beberapa daerah masih memberikan keringanan, konsumen kini harus menyiapkan biaya tambahan sebesar Rp 3–5 juta per tahun untuk PKB serta bea balik nama sekitar 10–12 persen dari harga kendaraan.
Dalam rangka menstabilkan posisi pasar, Honda menyiapkan model EV yang lebih terjangkau, yang diperkirakan akan diluncurkan di bawah nama “Super‑N”. Kendaraan ini dirancang sebagai hatchback kompak dengan harga target di bawah £20.000 (sekitar Rp 400 jutaan). Harga yang kompetitif diharapkan dapat menarik konsumen di Asia, termasuk Indonesia, yang kini menghadapi beban pajak tambahan namun tetap menginginkan solusi transportasi berkelanjutan.
Strategi baru Honda juga melibatkan penyesuaian target penjualan EV. Pada awal tahun 2024, CEO Toshihiro Mibe menargetkan kontribusi penjualan EV mencapai 40 persen pada 2030. Namun, setelah kerugian besar dan penurunan penjualan, target tersebut dipangkas menjadi 20 persen. Fokus kini beralih ke model-model berbiaya rendah dengan volume penjualan tinggi, serta penguatan lini hybrid dan plug‑in hybrid yang masih menjadi andalan di pasar Eropa.
Berikut rangkuman dampak utama keputusan Honda:
- Penghentian e:Ny1 menandai penurunan komitmen Honda pada EV murni di Eropa.
- Kerugian impairment 2,5 triliun yen memaksa penyesuaian target penjualan EV menjadi 20% pada 2030.
- Penerapan pajak kendaraan listrik baru meningkatkan total biaya kepemilikan bagi konsumen Indonesia.
- Peluncuran model “Super‑N” diharapkan menjadi alternatif terjangkau untuk pasar Asia.
- Honda tetap mempertahankan strategi hybrid dan plug‑in hybrid sebagai tulang punggung penjualan global.
Keputusan ini memberi sinyal kuat bagi konsumen dan industri otomotif bahwa Honda akan beralih dari model EV premium yang belum terbukti ke kendaraan listrik dengan harga lebih bersahabat, sambil terus mengoptimalkan lini hybrid untuk menutupi kesenjangan pasar.
