Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 April 2026 | Awal April 2026, video konten kreator Steven Wongso yang memperingatkan bahaya konsumsi martabak manis menjadi viral di media sosial. Dalam video berdurasi tiga menit, Wongso menyoroti tingginya kadar gula dalam martabak dan menuduh penjualnya “memiliki banyak dosa” serta menyamakan praktik penjualan itu dengan perdagangan narkoba. Pernyataan tersebut menuai gelombang hujatan dari netizen, penjual makanan tradisional, hingga kalangan kesehatan.
Menanggapi polemik tersebut, dokter sekaligus edukator kesehatan Dr. Adam Prabata menggunakan akun X pribadinya untuk menyoroti kontradiksi dalam sikap Wongso. Dr. Adam mengingatkan bahwa beberapa bulan sebelumnya Wongso pernah mengaku menggunakan steroid anabolik untuk mempercepat pertumbuhan otot, sebuah pengakuan yang menurunkan kredibilitasnya sebagai figur yang menyebarkan edukasi kesehatan. “Jika Anda mengedukasi bahaya gula, mengapa dulu Anda mengonsumsi zat yang jelas berisiko bagi kesehatan?” tulis Dr. Adam, menambah intensitas debat publik.
Sementara itu, aktor sinetron Ery Makmur yang baru saja menyelesaikan program penurunan berat badan sebanyak 30 kilogram, mengeluarkan komentar keras terhadap Steven Wongso. Ery menilai pernyataan Wongso yang menyamakan orang obesitas dengan anjing tidak memiliki empati dan menyinggung martabat manusia. “Membandingkan orang gendut dengan anjing adalah tindakan tidak berperasaan,” ujar Ery dalam sebuah video yang diunggah pada 14 April 2026, menambahkan bahwa faktor obesitas jauh lebih kompleks daripada sekadar pilihan makanan.
Ery Makmur mengisahkan perjalanan transformasinya: selama sepuluh bulan, ia berhasil menurunkan berat badan dari 118 kg menjadi 88 kg melalui pola hidup disiplin, termasuk tidur lebih awal, rutin lari pagi setelah salat Subuh, serta mengatur pola makan seimbang. Motivasi utama Ery bukan sekadar penampilan, melainkan kesehatan jangka panjang untuk mendampingi pertumbuhan anaknya. Ia menekankan pentingnya kasih sayang pada diri sendiri dan konsistensi sebagai kunci sukses diet, kontras dengan narasi simplistik yang dipakai Wongso.
Kontroversi ini memunculkan perdebatan tentang tanggung jawab influencer dalam menyampaikan pesan kesehatan. Di satu sisi, penyuluhan mengenai risiko gula berlebih memang relevan mengingat tingginya prevalensi diabetes dan obesitas di Indonesia. Di sisi lain, penggunaan bahasa yang menghakimi dan membandingkan dengan kriminalitas atau hewan dapat menimbulkan stigma sosial, yang justru menghambat upaya pencegahan. Ahli psikologi kesehatan menegaskan bahwa edukasi harus berbasis data, bersifat inklusif, dan menghindari stereotip yang dapat memperparah diskriminasi.
Reaksi netizen beragam. Sebagian mendukung Wongso karena mengangkat isu gizi, sementara yang lain menilai ia melampaui batas dengan menyudutkan penjual martabak dan mengabaikan konteks ekonomi mereka. Di platform lain, pengguna memuji Ery atas keberanian menolak retorika berbahaya, namun ada pula yang mengkritik Ery karena menantang Wongso secara pribadi tanpa dialog terbuka. Kedua belah pihak sepakat bahwa perbincangan tentang gula, steroid, dan obesitas harus dilandasi fakta medis, bukan opini emosional semata.
Para pakar gizi menambahkan bahwa konsumsi martabak manis sesekali tidak otomatis menimbulkan bahaya, asalkan diimbangi dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik. Steroid anabolik, bila digunakan tanpa pengawasan medis, memang dapat menimbulkan efek samping serius, termasuk gangguan hormonal dan kardiovaskular. Oleh karena itu, tuduhan Dr. Adam terhadap Wongso menyoroti pentingnya konsistensi dalam perilaku hidup sehat: siapa yang mengkritik harus dapat menjadi contoh.
Kesimpulannya, fenomena ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan publik harus disampaikan dengan data kuat, bahasa yang menghormati semua lapisan masyarakat, dan konsistensi perilaku dari para penyampai pesan. Sementara kritik konstruktif seperti yang disampaikan Ery Makmur dan Dr. Adam Prabata dapat memperkaya dialog, penggunaan istilah provokatif atau stigma dapat menurunkan efektivitas pesan. Diharapkan ke depan, influencer dan profesional kesehatan bekerja sama dalam menyusun kampanye yang berbasis bukti, inklusif, dan mendukung perubahan perilaku positif tanpa menimbulkan stigma.
