Guru Besar UI Ungkap Ancaman Penyakit Infeksi pada Anak: Tantangan Baru di Era Pasca Pandemi

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 08 April 2026 | Prof. Dessie Wanda, Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, menekankan pentingnya penanganan penyakit infeksi yang menjadi penyebab kematian tertinggi anak di tanah air. Ia menyampaikan temuan terbaru dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) periode 2020‑2024, yang memperlihatkan tren peningkatan signifikan pada pneumonia, diare, tuberkulosis, dan HIV di kalangan anak‑anak Indonesia.

Data Riskesdas menunjukkan bahwa kasus pneumonia pada anak hampir dua kali lipat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, insiden diare dan tuberkulosis juga mengalami kenaikan bertahap, mengindikasikan adanya tekanan kombinasi faktor biologis dan lingkungan.

Baca juga:
Penyakit Kenaikan Kasus (2020‑2024)
Pneumonia +92%
Diare +28%
Tuberkulosis +15%
HIV +10%

Prof. Dessie menyoroti bahwa sistem imun anak masih dalam proses maturasi, menjadikannya kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi. Ia menambahkan bahwa faktor eksternal seperti perubahan iklim, pola perilaku manusia, serta penurunan cakupan imunisasi yang dipicu oleh gangguan layanan selama pandemi COVID‑19, memperparah risiko tersebut.

Dalam upaya menanggulangi persoalan ini, Prof. Dessie mengusulkan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan ilmu keperawatan modern dengan Culture Care Theory karya Madeleine Leininger. Menurutnya, intervensi keperawatan tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya keluarga pasien. “Tindakan keperawatan tidak selalu harus mengubah total budaya pasien. Kadang kita harus melakukan akomodasi atau negosiasi agar pengasuhan tetap berjalan tanpa melanggar prinsip budaya yang dianut keluarga,” ujarnya.

Contoh konkret penerapan pendekatan tersebut dihadirkan melalui dua studi kasus di Indonesia. Pertama, komunitas Badui Dalam yang melarang penggunaan teknologi modern termasuk peralatan medis. Seorang anak Badui Dalam mengalami patah tulang dan keluarganya awalnya memilih pengobatan tradisional oleh tukang urut. Setelah kondisi memburuk, Prof. Dessie memfasilitasi dialog dengan pemangku adat, menghasilkan kesepakatan agar anak mendapatkan perawatan medis di klinik terdekat tanpa melanggar aturan adat.

Kedua, tradisi “Sei” di Nusa Tenggara Timur, di mana ibu dan bayi baru lahir diasapi selama beberapa hari sebagai upaya perlindungan. Praktik ini meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan pada bayi. Prof. Dessie menekankan perlunya edukasi yang menghormati nilai budaya sekaligus menyampaikan bahaya kesehatan, sehingga keluarga dapat menyesuaikan ritual tanpa mengorbankan keselamatan anak.

Pendekatan budaya‑kesehatan ini mendapat dukungan luas di kalangan akademisi UI dan lembaga kesehatan. Fakultas Ilmu Keperawatan kini mengintegrasikan modul pelatihan culture care negotiation dalam kurikulum pendidikan, dengan harapan generasi perawat dapat beroperasi sensitif terhadap keragaman budaya Indonesia.

Prof. Dessie menutup paparan dengan panggilan aksi kepada pemerintah, lembaga donor, dan masyarakat luas. Ia mengusulkan peningkatan program imunisasi berbasis komunitas, penguatan surveilans penyakit menular, serta penyediaan sumber daya bagi tenaga kesehatan di daerah terpencil. “Jika kita tidak mengatasi akar penyebab dan konteks sosial budaya, upaya medis saja tidak akan cukup,” tegasnya.

Dengan menempatkan perspektif budaya sebagai bagian integral penanggulangan penyakit infeksi, UI berupaya menjadi pionir dalam strategi kesehatan anak yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *