Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Di sebuah sudut sederhana Lebak, Banten, sebuah rak warung menjadi saksi bisu perjalanan Siti Julaeha, seorang ibu rumah tangga yang memulai usaha sembako pada tahun 2017 dengan modal Rp2 juta bersama program PNM Mekaar. Pada awalnya, warung itu berfungsi sebagai tambahan penghasilan sambil tetap bekerja di sektor lain.
Ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020, Siti terpaksa menghentikan pekerjaan utama dan memusatkan perhatian pada warungnya. Dengan tekad kuat, ia tidak menyerah. Dukungan modal dan pendampingan dari PNM Mekaar, termasuk pelatihan manajemen keuangan, memungkinkan warungnya berkembang pesat. Pendapatan yang semula fluktuatif menjadi lebih stabil, memberi Siti ruang untuk mengelola arus kas, membayar angsuran, dan menabung bagi kebutuhan keluarga.
Perkembangan usaha Siti tidak lepas dari sinergi holding ultra mikro BRI Group (UMi). Skema angsuran ringan dan akses permodalan tanpa agunan yang ditawarkan BRI memberikan kelonggaran finansial yang sangat dibutuhkan. Dengan bantuan tersebut, Siti mampu memperluas variasi barang, meningkatkan stok, dan memperbaiki fasilitas warung. Pendekatan berbasis pemberdayaan perempuan ini menurunkan beban kredit, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri sebagai pengusaha.
Puncak transformasi terjadi ketika Siti ditawari menjadi BRILink Agen. Menyadari belum adanya agen BRILink di lingkungan sekitar, ia melihat peluang besar untuk melayani kebutuhan transaksi keuangan warga. Sebagai agen, Siti tidak hanya menawarkan layanan transfer, pembayaran tagihan, dan pembelian pulsa, tetapi juga memperkuat ekosistem usahanya. Kedua lini bisnis – warung sembako dan layanan keuangan – saling menguat, meningkatkan frekuensi kunjungan pelanggan dan pendapatan harian.
Seiring waktu, pertumbuhan Siti tampak nyata. Ia kini memiliki toko yang terpisah dari rumah, memudahkan manajemen inventaris dan melayani lebih banyak pelanggan. Pendapatan bulanan yang konsisten memungkinkan Siti menabung untuk pendidikan anak dan memperbaiki fasilitas rumah tangga. Kisahnya menjadi contoh konkret bagaimana perempuan prasejahtera dapat naik kelas ekonomi melalui akses mikrofinansial dan pendampingan yang tepat.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa program PNM Mekaar merupakan bagian integral dari strategi Holding Ultra Mikro BRI untuk memperluas inklusi keuangan. Hingga Februari 2026, program tersebut telah melayani 22,9 juta nasabah perempuan di lebih dari 60.000 desa, dan lebih dari 1,4 juta nasabah berhasil naik kelas ke layanan BRI dan Pegadaian. Statistik ini menegaskan peran strategis sinergi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha mikro dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Kisah Siti Julaeha membuktikan bahwa kombinasi modal mikro, pelatihan usaha, dan peluang digital seperti BRILink dapat mengubah warung sederhana menjadi pusat ekonomi desa. Keberhasilan ini tidak hanya mengangkat taraf hidup satu keluarga, tetapi juga memperkuat jaringan ekonomi di Lebak, memberi harapan baru bagi ibu‑ibu rumah tangga lain yang ingin menapaki jalur kewirausahaan.
