Pasangan Disabilitas Kudus Bangun Usaha Kue Rangi & Wingko Babat, Menginspirasi Ribuan Pembeli

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 29 April 2026 | Zaenal Rahman (48) dan Leginah (50), pasangan suami istri yang tinggal di Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengubah keterbatasan fisik menjadi peluang ekonomi dengan menjual kue rangi dan wingko babat. Keduanya mengalami kecelakaan dan penyakit yang membuat mobilitas terbatas, namun semangat berwirausaha tetap menggelora.

Zaenal dulunya bekerja sebagai pemanjat pohon cengkeh di Maluku. Pada tahun 2005 ia jatuh dari ketinggian sekitar lima meter, mengakibatkan kaki kanannya tidak lagi berfungsi secara normal. Sejak saat itu, ia harus mengandalkan kaki kiri atau kruk untuk berjalan jauh. Sementara Leginah menderita pengapuran tulang sejak 2020, yang memengaruhi pinggang hingga kaki kirinya. Ia hanya dapat melangkah dengan alat bantu atau kursi plastik sebagai tumpuan.

Baca juga:

Setelah menghabiskan enam tahun masa istirahat, Zaenal memutuskan pada tahun 2018 untuk memulai usaha makanan ringan bersama istrinya. Pilihan mereka jatuh pada kue rangi, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, kelapa, gula, dan garam, serta wingko babat, kue beras berbasis kelapa, gula, vanili, dan air kelapa. Kedua produk tersebut memiliki rasa manis gurih yang cocok dengan selera pasar lokal.

Pada awalnya, penjualan tidak langsung mengalir. Modal terbatas membuat mereka harus kreatif mencari pasar. Mereka pertama kali menaruh produk di warung sekitar rumah, namun sering kembali utuh karena tidak laku. Setelah mencoba menjual ke pasar di Kabupaten Pati, khususnya Pasar Jambean, permintaan mulai meningkat. Saat ini, Zaenal mengantar rata‑rata 150 buah kue rangi dan wingko babat setiap pagi menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi menjadi roda tiga, sehingga lebih stabil untuk kondisi kakinya.

Proses produksi dilakukan setiap sore. Zaenal bertugas mengaduk adonan wingko babat, sementara Leginah menyiapkan adonan kue rangi. Wingko babat dipanggang selama 25 menit, sedangkan kue rangi hanya memerlukan 10 menit. Produk wingko babat dapat bertahan hingga empat hari, sementara kue rangi lebih cepat basi dalam dua hari, sehingga keduanya harus memastikan distribusi harian yang konsisten.

Harga jual per buah ditetapkan Rp 1.100, cukup untuk menutupi kebutuhan makanan sehari‑hari, modal, dan menabung sedikit demi sedikit. Pendapatan ini juga memungkinkan mereka membeli peralatan tambahan, seperti kompor listrik yang lebih ringan dan peralatan pengemas sederhana.

Selain tantangan ekonomi, pasangan ini juga menghadapi stigma sosial. Beberapa orang mengolok‑olok dengan komentar “sama‑sama cacat memangnya bisa apa”. Namun, Zaenal dan Leginah menjawab dengan kerja keras di dapur. Setiap hari mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kemampuan berkontribusi pada perekonomian keluarga.

Keinginan mereka tidak berhenti pada penjualan kue saja. Zaenal menyatakan harapannya dapat berjualan menggunakan kendaraan roda tiga tipe Viar atau Tossa, bahkan menambah penjualan es krim kelapa, sehingga dapat berpindah‑pindah tempat dan menjangkau pasar yang lebih luas. Mobilitas yang lebih fleksibel diyakini akan meningkatkan volume penjualan serta membuka peluang kerja tambahan bagi warga sekitar.

Keberhasilan mereka menjadi contoh nyata bagi komunitas disabilitas di Kudus dan sekitarnya. Pemerintah daerah dan lembaga non‑profit mulai memperhatikan model usaha mikro ini, dengan harapan dapat mereplikasi pendekatan serupa di wilayah lain. Keduanya pun bersedia berbagi pengetahuan tentang resep, teknik pengolahan, dan strategi pemasaran kepada pasangan lain yang mengalami keterbatasan serupa.

Dengan tekad yang kuat, kreativitas dalam mengatasi keterbatasan, serta dukungan pasar yang semakin menerima, Zaenal dan Leginah membuktikan bahwa semangat wirausaha tidak mengenal batas fisik. Mereka tidak hanya menyambung hidup, tetapi juga menginspirasi ribuan orang untuk melihat potensi di balik setiap tantangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *