Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 22 Juli 2026 | Rupiah berbalik menguat pada pembukaan pagi ini terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat mata uang Garuda paling kuat di Asia. Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026 pagi. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama pendorong penguatan mata uang rupiah. Aliran masuk dana asing ke pasar keuangan Indonesia turut memberikan sentimen positif bagi penguatan nilai tukar rupiah.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan ini disebabkan oleh meredanya tensi geopolitik Amerika Serikat dengan Iran. Rupiah juga didukung oleh dana asing yang masih terus kembali masuk ke pasar Indonesia. Sementara itu, mata uang Asia beberapa bergerak variatif. Ringgit Malaysia mencatat menguat 0,07 persen, yuan China menguat 0,06 persen. Lalu dolar Singapura yang menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.
Nilai tukar rupiah menguat 0,33 persen ke level Rp17.888 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. Penguatan rupiah dipicu meredanya kekhawatiran investor terkait defisit APBN Indonesia yang tetap terjaga di bawah tiga persen. Rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia dan berpotensi kembali menguat menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia.
Di sisi lain, rupiah ditutup melemah ke Rp17.948 per dolar AS, turun 27 poin atau 0,15 persen dibanding penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS dan harga minyak dunia. Meski tertekan eksternal, aliran dana asing ke pasar saham dan SBN menjaga optimisme terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Kesimpulan, rupiah mengalami pergerakan yang variatif dalam beberapa hari terakhir. Namun, dengan meredanya ketegangan geopolitik dan aliran dana asing yang terus masuk, rupiah diprediksi akan tetap stabil dan berpotensi menguat lebih lanjut.
