Profil Lengkap Shalahuddin Warits alias Ra Mamak, Kiai Lulusan Al‑Azhar dan Suami Inayah Wahid yang Sederhana

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 08 April 2026 | Shalahuddin A. Warits, yang lebih akrab dipanggil Ra Mamak atau Lora Mamak, menjadi sorotan publik setelah pernikahannya dengan Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu mantan Presiden ke‑4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pernikahan yang berlangsung secara sederhana di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk‑Guluk, Sumenep, Madura pada 5 April 2026, menegaskan bahwa sosok kiai muda ini tetap menjunjung nilai kerendahan hati meski latar belakang keluarganya begitu bergengsi.

Ra Mamak lahir di Sumenep pada 16 April 1982 sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, putra KH Warits Ilyas, seorang ulama karismatik Madura. Sejak kecil ia dibesarkan di lingkungan pesantren, sehingga gelar “Lora”—sebutan kehormatan untuk putra seorang kiai yang memiliki kapasitas keilmuan—telah melekat pada dirinya sejak remaja.

Baca juga:

Pendidikan formalnya dimulai di Pondok Pesantren Annuqayah, dilanjutkan dengan menempuh madrasah di MAK Tebuireng, Jombang. Ambisi akademik membawanya menembus batas nasional hingga ke Mesir, di mana ia meraih gelar sarjana Bahasa Arab dari Universitas Al‑Azhar, Kairo. Tidak berhenti sampai di situ, ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan magister di Universitas Indonesia dan menyelesaikan doktoralnya di Universitas Gadjah Mada. Selama menimba ilmu di luar negeri, ia menguasai tiga bahasa asing—Inggris, Arab, dan Prancis—yang kemudian memperkaya kemampuan dakwah dan komunikasi lintas budaya.

Setelah menyelesaikan studi, Shalahuddin kembali ke kampung halamannya dan mengabdikan diri sebagai dosen tetap di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) sejak 2015. Peranannya tidak terbatas pada ruang kelas; ia juga aktif mengelola media kampus “Arus Kampus” serta buletin “Terobosan” yang berfokus pada isu‑isu keagamaan dan sosial. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, ia melanjutkan tradisi keilmuan ayahnya sambil menanamkan nilai‑nilai toleransi, pluralisme, dan kepedulian lingkungan kepada para santri.

Keterlibatannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memperluas jaringan sosialnya, khususnya di wilayah Sumenep. Pada Pilkada 2020, ia sempat masuk dalam bursa calon bupati sebagai Ketua DPC PPP Sumenep, menandakan minatnya pada arena politik lokal. Meskipun akhirnya tidak melanjutkan pencalonan, pengalaman tersebut menegaskan bahwa ia adalah tokoh yang mampu menjembatani dunia pesantren, akademik, dan politik.

Berbagai aktivitas sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari profilnya. Ra Mamak menekankan pentingnya fikih lingkungan, menolak eksploitasi alam seperti penambangan fosfat di Madura, dan aktif dalam program pelestarian alam. Ia juga terlibat dalam gerakan‑gerakan kemasyarakatan yang menyoroti hak‑hak marginal, sejalan dengan warisan nilai kemanusiaan yang ditanamkan oleh ayahnya, Gus Dur.

Hubungan dengan Inayah Wahid menambah dimensi publik pada kehidupannya. Inayah, yang dikenal sebagai aktris, komedian, dan aktivis HAM, menikah dengan Shalahuddin dalam sebuah akad nikah tertutup pada 22 Januari 2025 di Ciganjur, Jakarta Selatan, sebelum perayaan resmi di Madura. Kedua pasangan menyatu dalam nilai‑nilai kebudayaan Madura yang sederhana namun sarat makna, menampilkan suasana silaturahmi hangat tanpa kemewahan berlebihan.

Pernikahan ini tidak hanya menjadi berita keluarga Gus Dur, melainkan juga mencerminkan perpaduan antara tradisi pesantren yang kental dengan semangat modernitas akademik. Ra Mamak, dengan latar belakang Al‑Azhar, UI, dan Gadjah Mada, mampu menjembatani generasi muda yang mencari referensi keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman. Keberadaannya di pesantren Annuqayah menjadi contoh konkret bagaimana ilmu klasik dapat dipadukan dengan pemikiran kritis dan kepedulian sosial.

Secara keseluruhan, Shalahuddin Warits alias Ra Mamak adalah sosok kiai muda yang menonjolkan kesederhanaan, integritas, dan komitmen pada pendidikan serta keadilan sosial. Perjalanan hidupnya—dari pesantren Madura hingga universitas internasional, dari dosen hingga aktivis lingkungan—menunjukkan bahwa kepemimpinan keagamaan di Indonesia kini dapat berwujud modern, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *