Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Mei 2026 | Senin, 4 Mei 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik setelah menyinggung negara Yaman dalam rangkaian pidato yang membahas narasi “Indonesia gelap“. Dalam pernyataannya, Prabowo menyiratkan bahwa pihak-pihak yang ingin melarikan diri dari Indonesia mungkin memilih tujuan ke Yaman, menambah ketegangan diplomatik dan memicu reaksi keras dari tokoh agama terkemuka, Habib Rizieq Shihab, Ketua Front Persaudaraan Islam (FPI).
Habib Rizieq menanggapi secara tegas melalui unggahan video di kanal OfficialIslamicBrotherhoodTV. Ia menuduh bahwa pernyataan Prabowo tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh penasihat-penasihat baru di pemerintahan yang memiliki sentimen negatif terhadap Yaman. Menurut Rizieq, sosok yang paling mencolok adalah seorang mantan perwira militer yang ia sebut “Jenderal Baliho“, yang baru-baru ini diangkat menjadi penasihat Presiden bidang pertahanan nasional.
Rizieq menyoroti latar belakang pengangkatan Jenderal Baliho, menyebutkan bahwa ia sebelumnya terlibat dalam kasus kontroversial KM 50, sebuah tragedi kapal yang menewaskan sejumlah penumpang. Rizieq menegaskan bahwa bukti-bukti mengaitkan Jenderal Baliho dengan penyebaran informasi palsu terkait kasus tersebut, serta keterlibatannya dalam skandal “begal nasab” yang merusak reputasi institusi militer.
- Pengangkatan Jenderal Baliho sebagai penasihat pertahanan menimbulkan pertanyaan tentang objektivitas kebijakan luar negeri Indonesia.
- Hubungan pribadi antara Prabowo dan Jenderal Baliho diduga memengaruhi pernyataan Presiden mengenai Yaman.
- Habib Rizieq menekankan pentingnya menghormati hubungan persahabatan lama antara Indonesia dan Yaman, yang telah berkontribusi pada penyebaran Islam di Nusantara.
Dalam video tersebut, Habib Rizieq menegaskan bahwa Yaman adalah negara sahabat, bukan musuh. Ia mengingatkan bahwa lebih dari 7.000 pelajar Indonesia menuntut ilmu di Yaman, dan hubungan budaya serta keagamaan telah terjalin selama berabad-abad. “Mestinya kita bersyukur dan bangga kepada keturunan Yaman di negeri ini,” ujarnya.
Selain menuduh pengaruh Jenderal Baliho, Rizieq juga menyinggung pertemuan Prabowo dengan figur yang ia sebut “menteri segala urusan” pada era pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi titik balik yang membuka pintu bagi saran-saran agresif terkait kebijakan luar negeri, termasuk seruan untuk menyingkirkan elemen yang dianggap mengganggu stabilitas nasional.
Rizieq tidak hanya berhenti pada kritik; ia memperingatkan bahwa organisasi FPI siap melawan sikap rasis, fasis, atau kebencian berbasis suku yang ia nilai muncul dari pernyataan Prabowo. “Jika Presiden terus mengulangi, kami siap melawan,” tegasnya, menambah dimensi politik yang sensitif pada perdebatan ini.
Para pengamat politik menilai bahwa kontroversi ini mencerminkan dinamika internal pemerintahan Prabowo, di mana penunjukan penasihat-penasihat baru dapat mengubah arah kebijakan luar negeri. Mereka menyoroti bahwa penggunaan istilah “Yaman” dalam konteks negatif dapat merusak hubungan bilateral, terutama mengingat peran Yaman dalam sejarah penyebaran Islam ke Indonesia.
Di sisi lain, kementerian luar negeri Indonesia belum memberikan komentar resmi terkait pernyataan tersebut. Namun, sumber dalam lingkungan diplomatik memperkirakan bahwa pemerintah akan berupaya meredam ketegangan dengan menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap persahabatan dengan Yaman.
Kontroversi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan pers dan ruang bagi tokoh agama dalam mengkritik kebijakan pemerintah. Habib Rizieq, yang sebelumnya pernah menjadi sorotan karena aktivitasnya, kini kembali berada di garis depan perdebatan publik, menegaskan peranannya sebagai suara kritis yang mewakili kepentingan umat.
Seiring berjalannya hari, masyarakat menunggu respons resmi dari Istana Merdeka. Apakah Presiden Prabowo akan memperbaiki pernyataannya, ataukah ia akan tetap pada posisi yang dianggapnya strategis? Sementara itu, hubungan Indonesia‑Yaman tetap berada di ujung tanduk, menuntut penanganan diplomatik yang hati-hati.
