Kontroversi Steven Wongso: Dari Hinaan Orang Gemuk hingga Polemik Martabak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Steven Wongso, seorang kreator konten asal Surabaya, kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian unggahan media sosialnya memicu kemarahan warganet. Kontroversi pertama muncul pada 12 April 2026 ketika ia memposting video pendek di akun Instagram pribadi @steven__wongso yang menyamakan orang berlebihan berat badan dengan anjing, bahkan menambahkan bahwa mereka “lebih rendah” daripada hewan berkaki empat. Kutipan persisnya berbunyi, “Bagiku semua orang gendut itu anj*ng, amit. Emang bedanya kalian sama anjing apa? Makanan di depan kalian semua dihabisin kok, bahkan kalian orang gendut ini, lebih rendah daripada anj*ng lho.”

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman luas di platform TikTok, Instagram, dan Twitter. Pengguna menilai komentar Wongso sebagai bentuk body shaming yang tidak dapat ditoleransi, terutama mengingat posisinya sebagai influencer dengan jutaan pengikut. Beberapa akun mengorganisir “blacklist” terhadap Wongso, sementara netizen menyerukan permintaan maaf resmi.

Baca juga:

Tak lama setelah itu, pada minggu berikutnya, Wongso kembali menimbulkan polemik lewat video lain yang mengkritik martabak manis. Dalam rekaman yang diunggah lewat Twitter, ia menuduh para penjual martabak “memiliki banyak dosa” dan menyamakan penjualan martabak dengan perdagangan narkoba legal. Ia menekankan bahaya gula berlebih, mengatakan “Sadar nggak seberapa banyak gula dalam adonan martabak bapak, ibu? Itu bener‑benar bisa ngebunuh orang kalau terus‑terusan.” Pernyataan ini memicu reaksi keras dari para pedagang, beberapa di antaranya melaporkan bahwa mereka memblokir akun Wongso di warung mereka.

Seiring intensitas kritik, pada 14 April 2026 Steven Wongso muncul dalam podcast ‘Close the Door’ bersama Deddy Corbuzier untuk memberikan klarifikasi. Dalam wawancara, Wongso mengakui bahwa gaya bahasanya dipengaruhi oleh trauma masa kecil. Ia pernah mengalami obesitas parah saat SMP (2014‑2015) dan mengaku ayahnya sering menggunakan kata‑kata keras untuk memaksanya menurunkan berat badan. “Dari dulu saya dididik keras. Kata‑katasnya memang kasar, tapi itu yang bikin saya berubah,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa metode serupa pernah ia coba pada ibunya, yang pada saat itu berjuang menurunkan berat badan dari 80 kilogram. “Saya bilang ‘Ya apa bedanya mama sama anjing. Mama aja semua makanan dimakan gitu,’” kata Wongso, yang kemudian membuat ibunya menangis dan menuduhnya anak durhaka.

Reaksi Deddy Corbuzier dalam podcast cukup tajam. Ia menegur Wongso dengan pertanyaan, “Berarti lu belajar ya, ada orang enggak suka lu ngomong gitu?” Wongso menjawab dengan mengakui bahwa ibunya menilainya sebagai “iblis” karena kata‑kata yang dilontarkannya. Meski demikian, ia tetap berusaha menegaskan bahwa niatnya adalah mengedukasi masyarakat tentang bahaya konsumsi gula berlebih, bukan untuk menjelekkan individu atau pedagang.

Berbagai pihak kesehatan, termasuk dokter gizi, memberikan komentar netral namun menekankan pentingnya cara penyampaian yang tidak menyinggung. Mereka menyatakan bahwa peringatan mengenai kadar gula memang relevan, namun penggunaan bahasa yang menghina dapat menurunkan efektivitas pesan dan menambah stigma terhadap orang berlebihan berat badan.

Berikut rangkuman kronologis utama:

  • 12 April 2026 – Video Instagram mengandung hinaan terhadap orang gemuk, menyamakan mereka dengan anjing.
  • 13‑15 April 2026 – Video kritik martabak manis menyebar, memicu backlash dari pedagang.
  • 14 April 2026 – Podcast ‘Close the Door’ bersama Deddy Corbuzier; Wongso mengungkap trauma masa kecil dan metode diet pada ibunya.
  • 15 April 2026 – Media menyoroti pernyataan Wongso, menambahkan bahwa ia mengakui penggunaan kata‑kata kasar berakar dari pengalaman pribadi.

Hingga kini, Steven Wongso belum mengeluarkan pernyataan resmi berupa permintaan maaf publik. Namun, ia menyatakan akan lebih berhati‑hati dalam menyampaikan pendapat di media sosial. Kasus ini menegaskan kembali betapa sensitifnya topik body shaming dan kesehatan publik di era digital, serta pentingnya menyampaikan kritik dengan bahasa yang konstruktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *