Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 18 April 2026 | Jakarta, 17 April 2026 – Keluarga besar Ammar Zoni kembali menjadi sorotan publik setelah ibu angkatnya, yang dikenal dengan sebutan Ibu Angkat Ammar, memuji Zeda Salim sebagai sosok calon menantu yang ideal. Pujian ini muncul bersamaan dengan pernyataan kontroversial Ammar Zoni yang menyebutkan putranya, Ammar Zoni, “bodoh” dalam sebuah percakapan yang kemudian bocor ke media sosial.
Zeda Salim, mantan news anchor yang sempat menghilang dari layar kaca selama hampir 12 tahun, kembali muncul dengan penampilan baru tanpa hijab. Keputusan untuk melepas jilbab diungkap dalam program “Rumpi” di Trans TV pada Jumat, 17 April 2026. Zeda menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil demi menafkahi anaknya yang kini berada di bangku SMA serta orang tuanya yang sudah lanjut usia. Ia menambahkan bahwa sebelum memutuskan, ia sempat melakukan salat istikharah dan menunggu petunjuk Allah.
Tak lama setelah salat istikharah, Zeda menerima tawaran program televisi dari seorang direktur rumah produksi nasional. Penawaran tersebut dianggap sebagai jawaban doa dan menjadi peluang bagi Zeda untuk kembali meniti karier di dunia hiburan, sekaligus mengatasi tekanan finansial sebagai single parent.
Namun, di balik kesuksesan yang kembali diraih, Zeda juga mengungkapkan perjuangan panjang melawan trauma kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual yang dialaminya. Ia mengakui pernah terpaksa masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) selama beberapa bulan karena kondisi mental yang terpuruk. Selama 16 tahun, Zeda harus menanggung beban mengasuh anak seorang diri, yang membuatnya berada di titik terendah sebelum akhirnya menemukan kembali kekuatan melalui dukungan psikolog dan psikiater.
Sementara itu, hubungan Zeda dengan Ammar Zoni pernah menjadi topik hangat media. Pada awal 2026, muncul rumor bahwa kedekatan mereka dapat berujung pada pernikahan. Zeda menegaskan secara tegas bahwa ia menolak segala permintaan untuk menjadi pasangan Ammar. Ia menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah memulihkan diri secara mental dan memastikan kesejahteraan anaknya.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Ibu Angkat Ammar Zoni menilai Zeda sebagai sosok yang memiliki nilai-nilai kuat, kedewasaan, serta kemampuan mengelola rumah tangga dengan baik. Menurutnya, Zeda memiliki kualitas yang sangat cocok untuk menjadi menantu yang dapat diandalkan. Pernyataan ini menambah dinamika dalam hubungan keluarga, terutama setelah Ammar Zoni kembali mengkritik putranya dengan kata “bodoh”. Kritikan tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan netizen mengenai cara orang tua menyampaikan kritik kepada anak dewasa.
Reaksi publik beragam. Sebagian menganggap pujian Ibu Angkat kepada Zeda sebagai bentuk dukungan moral bagi seorang wanita yang telah berjuang melawan trauma. Sebagian lainnya menilai komentar Ammar Zoni sebagai tidak sensitif dan menambah beban psikologis bagi sang putra. Di media sosial, banyak yang mengirimkan dukungan kepada Zeda, mengingat perjuangannya sebagai single parent, serta mengapresiasi keberaniannya kembali ke dunia hiburan tanpa hijab.
Di sisi lain, Zeda menekankan bahwa keputusan melepas hijab bukan sekadar penampilan, melainkan langkah strategis untuk memperluas peluang kerja di industri televisi. Ia menegaskan bahwa meskipun menghadapi stigma sosial, ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik bila niatnya tulus. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi perempuan lain yang berada dalam situasi serupa, terutama yang menjadi korban KDRT.
Sejumlah pihak menilai bahwa cerita Zeda Salim mencerminkan realitas banyak perempuan Indonesia yang terpaksa memilih antara prinsip pribadi dan kebutuhan ekonomi. Penampilan baru tanpa hijab menjadi simbol perjuangan melawan keterbatasan, sekaligus menantang persepsi tradisional mengenai peran perempuan dalam keluarga.
Keseluruhan, dinamika antara Ibu Angkat Ammar, Zeda Salim, dan Ammar Zoni menyoroti kompleksitas hubungan keluarga, tekanan sosial, dan perjuangan pribadi dalam menghadapi trauma serta tantangan ekonomi. Cerita ini menjadi contoh nyata bagaimana keberanian individu dapat memicu percakapan lebih luas mengenai kebebasan berpenampilan, dukungan terhadap korban KDRT, serta pentingnya komunikasi yang konstruktif dalam keluarga.
