Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 24 April 2026 | Pada Rabu, 22 April 2026, sayap militer gerakan Syiah Lebanon, Hizbullah, meluncurkan serangkaian empat operasi militer yang secara tegas ditujukan untuk menanggapi dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Empat drone pengintai Israel dilaporkan berhasil ditembak jatuh di atas Desa Mansouri, menandai aksi paling signifikan dalam rangkaian serangan yang disebut sebagai balasan langsung atas aktivitas militer Israel di perbatasan selatan Lebanon.
Selain penembakan drone, operasi lain menargetkan personel tentara Israel di desa Qantara dan Bayada. Di Qantara, sebuah drone bunuh diri berhasil menabrak sebuah kendaraan SUV yang mengangkut perwira Israel, menewaskan atau melukai beberapa anggota pasukan. Sementara di Bayada, laporan menyebutkan adanya serangan tembakan ringan yang menambah tekanan pada pos-pos militer Israel yang berada di wilayah tersebut.
Pernyataan resmi Hizbullah yang dirilis melalui empat laporan terpisah menegaskan bahwa tindakan ini merupakan respons proporsional terhadap “agresi” Israel yang melanggar gencatan senjata yang seharusnya bersifat timbal balik. Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah, Naim Qassem, pada Sabtu, 18 April, sebelumnya menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata satu sisi dan menuntut penghentian total agresi, penarikan penuh pasukan Israel, pembebasan tahanan, serta kembalinya warga pengungsi.
Qassem juga menguraikan lima langkah utama yang menjadi agenda politik dan militer Hizbullah: penghentian pertempuran secara permanen di seluruh Lebanon, penarikan total pasukan Israel, pembebasan semua tahanan, kembalinya warga yang mengungsi, serta program rekonstruksi dengan dukungan Arab dan internasional. Ia menambahkan bahwa Hizbullah siap berkolaborasi dengan pemerintah Lebanon serta lembaga-lembaga negara untuk memperkuat persatuan nasional dan melindungi kedaulatan negara.
Operasi militer pada 22 April menandai eskalasi pertama setelah pernyataan Qassem, dan menunjukkan kesiapan Hizbullah dalam menggunakan taktik asimetris, termasuk penggunaan drone bunuh diri dan serangan udara ringan. Penggunaan drone dalam konflik ini menambah dimensi baru pada perang konvensional, mengingat kemampuan pengawasan Israel yang sebelumnya dianggap superior.
Para analis militer menilai bahwa serangan ini tidak hanya bersifat taktis, melainkan juga strategis. Dengan menembak jatuh empat UAV Israel, Hizbullah berhasil mengganggu jaringan intelijen musuh, sekaligus mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa pelanggaran gencatan senjata tidak akan ditoleransi. Sementara itu, Israel masih menegaskan haknya untuk mempertahankan keamanan perbatasan, namun belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai respons militer selanjutnya.
Secara keseluruhan, situasi di perbatasan Lebanon‑Israel tetap tegang, dan kedua belah pihak tampaknya berada pada ambang konfrontasi yang lebih luas. Upaya diplomatik melalui mediator regional masih terus digalakkan, namun ketegangan di lapangan menunjukkan bahwa solusi damai masih jauh dari tercapai.
