Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 April 2026 | Gunung Semeru, gunung berapi paling tinggi di Pulau Jawa, kembali mengeluarkan aktivitas vulkanik signifikan pada pagi hari tanggal 23 April 2026. Antara pukul 05.00 hingga 07.30 WIB, terjadi dua kali erupsi yang menghasilkan kolom abu mencapai ±1.000 meter di atas puncak, setara dengan ketinggian gunung itu sendiri. Status gunung dinyatakan Level III atau Siaga, menandakan potensi bahaya masih tinggi.
Pengamat dari Pos Pengamatan Gunung Semeru melaporkan bahwa abu yang keluar berwarna kelabu pekat, mengarah ke arah barat, dan tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm serta durasi total 118 detik. Selain abu, otoritas mengingatkan adanya risiko awan panas susulan, guguran lava, dan lahar yang dapat mengalir melalui lembah‑lembah di sekitar puncak. Masyarakat diimbau untuk menjauh minimal 13 kilometer dari puncak demi keselamatan.
Beberapa hari sebelumnya, korban berupa seorang siswa di Lumajang dilaporkan mengalami dampak langsung akibat abu yang turun, memaksa pihak sekolah mengganti komputer untuk ujian TKA. Insiden ini menegaskan betapa luasnya dampak erupsi terhadap kehidupan sehari‑hari warga sekitar.
Sementara itu, pada 22 April 2026 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengeluarkan surat edaran resmi yang menyatakan jalur pendakian kembali dibuka mulai 24 April 2026. Batas akhir pendakian dibatasi hingga area Ranu Kumbolo, yang terletak di luar zona bahaya sektoral 5 km dari puncak Semeru. Hal ini didasarkan pada rekomendasi teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menilai area tersebut relatif aman untuk aktivitas terbatas.
Untuk menjaga keselamatan, kuota pendakian dibatasi 200 orang per hari dengan durasi perjalanan 2 hari 1 malam. Semua pendaki wajib melakukan pendaftaran secara daring melalui situs resmi gunung Semeru paling lambat H‑2 sebelum hari pendakian. Selama berada di kawasan, pendaki harus mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah diperbarui, termasuk penggunaan masker anti‑abu, membawa perlengkapan P3K, serta melaporkan setiap perubahan kondisi cuaca atau aktivitas vulkanik kepada petugas.
Petugas lapangan menegaskan bahwa prosedur ini tidak hanya melindungi pendaki, tetapi juga membantu tim penanggulangan bencana dalam memantau pergerakan massa lahar dan aliran air yang dapat mengancam desa‑desa di lereng gunung. Pihak Taman Nasional juga menyiapkan pos‑pos evakuasi sementara di daerah Ranu Kumbolo dan sekitar Ranu Pane untuk mempercepat respons bila situasi memburuk.
Berita tentang pembukaan kembali jalur pendakian disambut hangat oleh komunitas pendaki domestik dan internasional. Namun, para ahli tetap memperingatkan bahwa aktivitas gunung berapi dapat berubah dengan cepat. Oleh karena itu, mereka menyarankan pendaki untuk selalu memantau update terbaru dari PVPVMBG dan Balai Besar Taman Nasional sebelum merencanakan perjalanan.
Secara keseluruhan, situasi di Gunung Semeru pada akhir April 2026 mencerminkan kombinasi antara ancaman alam dan peluang wisata yang tetap dapat dimanfaatkan dengan hati‑hati. Pengawasan intensif, regulasi kuota, serta kesadaran akan bahaya abu dan lahar menjadi kunci utama untuk menjaga keselamatan semua pihak yang terlibat.
