Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 01 Mei 2026 | Direktur Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dan Menteri Transportasi Indonesia (MTI) kembali menekankan pentingnya percepatan Double-Double Track pada koridor Manggarai‑Cikarang. Proyek infrastruktur empat jalur rel ini dirancang untuk memisahkan kereta api jarak jauh (KAJ) dengan kereta listrik komuter (KRL), sehingga mengurangi konflik operasional yang selama ini menjadi sumber kemacetan dan potensi kecelakaan. Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, target awal penyelesaian tahun 2020 sudah meleset, namun tekad pemerintah untuk menyelesaikannya pada 2026 tetap kuat.
Sejak diumumkan pada tahun 2002, Double-Double Track mendapat pendanaan awal dari pinjaman JICA dengan persyaratan pembebasan lahan 100 persen. Kendala pembebasan tanah menjadi penyebab utama penundaan, memaksa DJKA menanggung biaya tambahan sejak 2015. Pada era Menteri Ignasius Jonan, target awal ditetapkan selesai awal 2018, namun realitas pada 2021 baru mencakup segmen Manggarai‑Bekasi melalui Jatinegara, meninggalkan bagian Bekasi‑Cikarang yang masih berbagi satu jalur antara KRL dan KAJ.
Kecelakaan tragis di Stasiun Bekasi Timur pada April 2026, yang menewaskan puluhan penumpang, kembali menyoroti urgensi proyek ini. Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI), Riza Primadi, menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan manifestasi kelalaian sistemik akibat belum terselesaikannya Double-Double Track. Ia menekankan bahwa tanpa pemisahan jalur, risiko tabrakan akan terus mengintai, terutama pada zona padat penumpang seperti jalur Bekasi‑Cikarang.
Pembangunan Double-Double Track terbagi dalam empat paket utama: Paket A (Manggarai‑Jatinegara) senilai Rp3,440 triliun, Paket B2‑1 (Jatinegara‑Bekasi) Rp900 miliar, Paket B2‑2 (Jatinegara‑Bekasi) Rp260 miliar, serta Paket B1 (Bekasi‑Cikarang) Rp1,121 triliun. Berikut rangkuman singkat paket-paket tersebut:
- Paket A: Manggarai‑Jatinegara – fokus pada rel utama di pusat kota.
- Paket B2‑1 & B2‑2: Jatinegara‑Bekasi – memperluas kapasitas jalur di wilayah pinggiran.
- Paket B1: Bekasi‑Cikarang – menghubungkan kawasan industri dengan jaringan nasional.
MTI menuntut percepatan eksekusi, terutama pada Paket B1 yang menjadi titik kritis bagi sektor logistik dan mobilitas harian ribuan commuter. Budi Karya Sumadi meminta Dirjen Perkeretaapian untuk meningkatkan intensitas pengawasan, mempercepat proses pembebasan lahan, dan memanfaatkan teknologi konstruksi modular guna menekan biaya serta waktu. Pemerintah juga mempertimbangkan penyesuaian kebijakan tarif dan insentif bagi kontraktor yang dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Jika Double-Double Track selesai sesuai target 2026, manfaatnya akan meliputi peningkatan frekuensi layanan KRL, pengurangan waktu tempuh KA jarak jauh, serta peningkatan keselamatan operasional. Lebih jauh lagi, pemisahan jalur diharapkan dapat menurunkan tingkat kecelakaan hingga 70 persen, berdasarkan studi internal Kementerian Perhubungan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, BUMN, serta stakeholder swasta, proyek ini berpotensi menjadi contoh transformasi infrastruktur kereta api di Asia Tenggara.
