Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 08 Mei 2026 | Pemerintah saat ini sedang mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan impor LPG yang selama ini membebani anggaran energi nasional.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, CNG memiliki beberapa kelebihan dibandingkan LPG. Salah satunya adalah harga yang lebih murah. Bahlil menyebutkan bahwa harga CNG bisa lebih murah 30% dibandingkan LPG.
Namun, pengembangan CNG untuk kebutuhan rumah tangga juga memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah masalah keselamatan. CNG memiliki tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan LPG, yaitu sekitar 200-250 bar. Sementara LPG hanya memiliki tekanan sekitar 5-10 bar.
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal juga menyebutkan bahwa CNG memiliki risiko keamanan yang sangat tinggi untuk rumah tangga. Moshe mengingatkan bahwa tekanan CNG bisa 25 kali lipat lebih tinggi dibandingkan LPG, sehingga sangat rawan meledak jika terjadi malfungsi.
Moshe meminta agar pemerintah mempertimbangkan kembali pengembangan CNG sebagai pengganti LPG dengan berdasarkan aspek keselamatan dan lingkungan. Ia juga menyebutkan bahwa CNG sudah lazim digunakan oleh sektor industri, seperti perhotelan dan restoran, karena mereka memiliki kapasitas untuk menerapkan prosedur keamanan dan penempatan tabung yang ketat.
Di sisi lain, pemerintah juga sedang melakukan uji coba tabung CNG ukuran 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga. Bahlil menyebutkan bahwa skema harga dan mekanisme distribusi CNG masih terus dimatangkan.
Dengan demikian, pengembangan CNG sebagai pengganti LPG masih memerlukan pertimbangan yang matang dan evaluasi yang benar. Pemerintah perlu memastikan bahwa CNG aman dan praktis untuk digunakan oleh masyarakat rumah tangga.
