Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 18 April 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pada konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta bahwa Indonesia telah memperoleh pasokan minyak mentah (crude) dari Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 17 April 2026, setelah pertemuan diplomatik antara Presiden Prabowo Subianto, Bahlil, dan pejabat tinggi Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin serta Menteri Energi Sergey Tsivilev.
Menurut Bahlil, pengiriman crude dari Rusia dijadwalkan dapat mulai tiba di pelabuhan Indonesia pada bulan April 2026. Ia menambahkan bahwa proses logistik berada pada tahap akhir, sehingga minyak mentah tersebut dapat segera mengisi kembali cadangan strategis energi nasional yang sempat tertekan akibat dinamika geopolitik global.
Walaupun mengonfirmasi keberhasilan kesepakatan, Bahlil menolak mengungkapkan volume pasti pembelian. “Volumenya saya tidak boleh disampaikan karena ada kesepakatan antar kedua negara yang melarang kami membicarakannya,” ujarnya. Hal yang sama berlaku untuk harga, yang ia klaim berada di bawah harga pasar internasional. “Kami berusaha mendapatkan harga terbaik, setidaknya tidak lebih tinggi dari harga pasar,” tambahnya.
Kesepakatan energi ini bersifat ganda, mencakup kerja sama Government-to-Government (G2G) serta Business-to-Business (B2B). Bahlil menekankan bahwa selain pembelian crude, Rusia juga siap berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur penting untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi Indonesia. “Rusia akan membantu pembangunan fasilitas penyimpanan, terminal ekspor-impor, serta teknologi pemrosesan yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional,” jelasnya.
Di samping minyak mentah, pemerintah Indonesia juga menargetkan impor LPG (Liquefied Petroleum Gas) dari Rusia. Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan LPG Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai 10 juta ton, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton. Oleh karena itu, sekitar 8,4 juta ton LPG harus dipenuhi melalui impor. Sebelum konflik antara Amerika Serikat dan Iran, mayoritas LPG Indonesia bersumber dari Amerika Serikat (70‑75 %), diikuti Timur Tengah (20 %) dan negara lain seperti Australia. Dengan situasi geopolitik yang tidak stabil, diversifikasi sumber menjadi prioritas.
- Pengiriman crude Rusia diperkirakan mulai April 2026.
- Volume dan harga tetap dirahasiakan sesuai kesepakatan bilateral.
- Rusia bersedia berinvestasi dalam infrastruktur energi Indonesia.
- Impor LPG dari Rusia masih dalam proses finalisasi, dengan target memenuhi kekurangan produksi domestik.
Strategi diversifikasi energi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok tradisional di Timur Tengah. Bahlil menyatakan bahwa Indonesia harus membuka peluang kerja sama dengan semua negara penghasil energi, termasuk Amerika Serikat, Afrika (misalnya Nigeria), serta negara‑negara lain yang memiliki potensi pasokan yang stabil.
Dalam pertemuan di Kremlin pada 13 April 2026, Bahlil mendampingi Presiden Prabowo Subianto untuk membahas kerjasama energi jangka panjang. Kedua belah pihak sepakat bahwa pasokan crude Rusia akan menjadi bagian penting dari bauran energi Indonesia hingga akhir 2026. “Kita tidak perlu risau, karena pasokan satu tahun ke depan sudah dipastikan aman,” kata Bahlil, menambahkan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan kapasitas kilang domestik untuk mengolah minyak mentah yang masuk.
Langkah ini juga diharapkan dapat menstabilkan harga energi dalam negeri, mengingat fluktuasi harga global yang dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah dan sanksi ekonomi. Dengan harga crude yang diklaim berada di bawah pasar, konsumen dan industri di Indonesia berpotensi merasakan manfaat berupa tarif energi yang lebih terjangkau.
Secara keseluruhan, kesepakatan energi dengan Rusia mencerminkan upaya pemerintah Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi, mengurangi risiko geopolitik, serta membuka peluang investasi asing di sektor strategis. Jika semua rencana berjalan lancar, Indonesia diproyeksikan akan memiliki pasokan minyak mentah dan LPG yang cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2026 tanpa harus bergantung pada satu sumber saja.
