Sengit! Dominasi ITB dan IPB di Bursa Rektor Itera: Simak 3 Nama Kandidat yang Siap Memimpin

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 26 April 2026 | Itera (Institut Teknologi Sumatera) kembali menjadi sorotan publik pada Rabu, 22 April 2026, ketika Bursa Rektor 2026 digelar dengan kompetisi yang semakin ketat. Dua perguruan tinggi ternama, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB), tampaknya memegang peranan penting dalam proses seleksi, mengirimkan dukungan kuat bagi tiga kandidat utama. Persaingan ini menandai dinamika baru dalam kepemimpinan institusi teknik yang berbasis di Lampung ini.

Sejak awal proses pencalonan, nama-nama akademisi berpengalaman muncul sebagai calon rektor. Tiga nama yang paling menonjol adalah Dr. Ahmad Fauzi, S.T., M.Sc., yang sebelumnya menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik; Prof. Rina Suryani, Ph.D., pakar energi terbarukan; serta Dr. Budi Santoso, S.T., M.Eng., yang dikenal lewat kontribusinya pada riset industri otomotif. Ketiganya memperoleh dukungan strategis dari jaringan alumni ITB dan IPB, yang memperkuat posisi mereka di mata pemilih.

Baca juga:

Dr. Ahmad Fauzi, lulusan ITB, menonjolkan visi “Transformasi Digital Kampus”. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya integrasi teknologi informasi dalam semua program studi, memperluas kerja sama dengan industri, dan meningkatkan kapasitas riset berbasis data. Dukungan ITB terlihat jelas lewat jaringan alumni yang aktif, memberikan akses pada sumber daya dan kolaborasi internasional.

Prof. Rina Suryani, yang meraih gelar Ph.D. di IPB, mengusung agenda “Kampus Hijau dan Berkelanjutan”. Rencana beliau mencakup pembangunan laboratorium energi terbarukan, peningkatan program pendidikan lingkungan, serta kerjasama dengan lembaga pemerintah dalam proyek-proyek hijau. Dukungan IPB memberikan keuntungan pada aspek riset agrikultur dan lingkungan, dua bidang yang menjadi fokus utama ITERA.

Dr. Budi Santoso, lulusan ITB serta berpengalaman di sektor otomotif, menawarkan program “Industri 4.0 dan Pengembangan SDM”. Ia menekankan perlunya kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri 4.0, memperluas program magang, serta meningkatkan kerjasama dengan perusahaan multinasional. Pendekatannya mendapat sambutan positif dari kalangan industri di Lampung, yang melihat peluang peningkatan tenaga kerja terampil.

Seluruh calon rektor harus melewati serangkaian tahap seleksi yang meliputi penilaian dokumen, wawancara panel, serta forum publik. Pada forum yang digelar di Gedung Rektor ITERA, ketiga kandidat memaparkan rencana strategis masing-masing selama 30 menit, diikuti sesi tanya jawab dengan dosen, mahasiswa, dan perwakilan alumni. Diskusi tersebut menyoroti isu-isu utama, seperti peningkatan kualitas pengajaran, penguatan riset, serta peran ITERA dalam pembangunan regional.

Data pemilih menunjukkan bahwa lebih dari 70% dari total pemilih adalah dosen tetap, sementara sisanya terdiri atas tenaga kependidikan dan perwakilan mahasiswa. Pada tahap awal, survei internal mengindikasikan bahwa dukungan ITB cenderung mengarah pada Dr. Ahmad Fauzi, sementara IPB lebih condong pada Prof. Rina Suryani. Dr. Budi Santoso, meski tidak secara eksplisit didukung oleh salah satu institusi, tetap mendapat simpati karena rekam jejaknya dalam kolaborasi industri.

Analisis politik kampus mengungkap bahwa dominasi ITB dan IPB bukan sekadar soal afiliasi akademik, melainkan strategi memperluas jaringan kerjasama lintas institusi. Kedua universitas tersebut berupaya menempatkan alumni mereka pada posisi strategis di perguruan tinggi lain, sehingga menciptakan sinergi dalam penelitian, pertukaran mahasiswa, dan pendanaan bersama. Bagi ITERA, kolaborasi ini dapat mempercepat proses akreditasi program studi dan meningkatkan reputasi internasional.

Sejumlah pakar pendidikan menilai bahwa persaingan ini dapat memicu inovasi dalam tata kelola kampus. “Jika proses seleksi tetap transparan dan berbasis merit, maka ITERA akan mendapatkan pemimpin yang mampu mengintegrasikan keunggulan teknik dengan perspektif keberlanjutan,” ujar Dr. Maya Lestari, pakar manajemen pendidikan dari Universitas Gadjah Mada.

Hasil akhir Bursa Rektor ITERA dijadwalkan diumumkan pada akhir bulan Mei 2026. Sementara itu, ketiga kandidat terus melakukan kampanye melalui pertemuan dengan dewan fakultas, lokakarya riset, serta kunjungan ke industri lokal. Semua pihak menantikan keputusan yang tidak hanya menentukan arah ITERA selama lima tahun ke depan, tetapi juga mencerminkan tren kolaborasi antaruniversitas di tingkat nasional.

Secara keseluruhan, proses Bursa Rektor ITERA 2026 menunjukkan dinamika politik akademik yang semakin kompleks, dengan dominasi ITB dan IPB sebagai faktor utama. Persaingan ketat antara tiga kandidat menandai fase penting bagi ITERA dalam memperkuat perannya sebagai pusat teknologi dan inovasi di wilayah Sumatera Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *