Koperasi Merah Putih Kutoharjo Catat Omzet Rp 60 Juta per Bulan Tanpa Gaji Relawan, Tembus Model Ekonomi Desa

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 April 2026 | Koperasi Merah Putih di desa Kutoharjo, Kabupaten Kudus, menorehkan prestasi ekonomi yang jarang ditemui di wilayah pedesaan. Dengan mengandalkan tenaga sukarelawan sepenuhnya, koperasi ini berhasil menghasilkan omzet harian antara lima hingga tujuh juta rupiah, yang bila dijumlahkan menjadi sekitar lima puluh hingga enam puluh juta rupiah setiap bulan. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dapat menggerakkan roda ekonomi desa tanpa mengandalkan bantuan gaji tradisional.

Sejak resmi beroperasi pada awal tahun 2026, Koperasi Merah Putih telah menggaet lebih dari dua ratus lima puluh anggota. Setiap warga yang ingin bergabung diwajibkan menempatkan simpanan pokok sebesar seratus ribu rupiah serta iuran wajib bulanan sepuluh ribu rupiah. Simpanan tersebut berfungsi sebagai modal utama koperasi, sehingga tidak ada dana yang disalurkan dari pemerintah daerah. Anggota yang terdaftar menerima kartu anggota dan buku simpanan sebagai bukti kepemilikan.

Baca juga:

Pengelolaan koperasi dipimpin oleh ketua Bambang Sudibyo bersama delapan pengurus lainnya, termasuk sekretaris, bendahara, dan koordinator bidang. Operasional berlangsung di balai desa yang dipinjamkan secara temporer oleh pemerintah desa. Ruang balai tersebut telah diubah menjadi mini market yang menyediakan kebutuhan pokok, snack, minuman, serta gas elpiji (gas melon). Selain itu, koperasi juga menawarkan layanan keuangan sederhana berupa simpan pinjam antar anggota.

  • Sembako: beras, gula, minyak goreng, tepung.
  • Makanan dan minuman: kopi, teh, snack lokal.
  • Gas melon: harga subsidi berkat kerja sama dengan Bulog.
  • Layanan keuangan: simpan pinjam, pembayaran tagihan listrik.

Meskipun omzet kotor mencapai Rp 60 juta per bulan, laba bersih yang tersedia untuk dibagikan atau untuk kebutuhan operasional masih sangat terbatas, yakni sekitar satu juta rupiah. Karena profit yang tipis, para pengurus hingga kini belum menerima gaji. Sebagai gantinya, mereka memperoleh motivasi dari rasa kebersamaan dan keinginan kuat untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa.

Semangat sukarela ini tampak jelas pada program bazar murah yang rutin digelar di beberapa dukuh sekitar Kutoharjo. Bazar tidak hanya menjadi sarana penjualan produk koperasi, tetapi juga memperkuat jaringan sosial antar warga. Harga barang tetap terjaga karena koperasi membeli langsung dari Bulog, menghindari perantara yang biasanya menaikkan harga.

Keberhasilan koperasi tidak lepas dari dukungan logistik. Kerja sama dengan Bulog memastikan pasokan beras dan bahan pokok lain tetap stabil serta harga tetap terjangkau. Relawan juga mengorganisir layanan antar barang untuk anggota yang tinggal jauh dari balai desa, sehingga akses kebutuhan tetap mudah.

Ke depan, Koperasi Merah Putih berencana memperluas ruang usahanya dengan menambah layanan digital, seperti pembayaran listrik dan air secara online, serta membuka kios khusus produk kerajinan lokal. Rencana tersebut diharapkan dapat menambah sumber pendapatan dan, secara bertahap, memungkinkan pemberian honorarium kepada para pengurus.

Keberadaan koperasi ini membuktikan bahwa semangat sukarela dapat menggerakkan roda ekonomi desa, meski tanpa dukungan gaji tradisional. Dengan omzet yang stabil dan layanan yang berorientasi pada kebutuhan warga, Koperasi Merah Putih menjadi model yang patut diperhatikan oleh desa‑desa lain di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *