Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 Mei 2026 | Kota Bekasi dinobatkan sebagai kota beracun kedua di dunia dengan emisi metana mencapai 6,3 ton per jam. Hal ini dikarenakan tingginya kadar gas metana di atmosfer yang telah melonjak ke angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan diperkirakan akan naik hingga 13 persen pada tahun 2030.
Menurut laporan dari Climate & Clean Air Coalition, lonjakan gas metana global paling banyak terjadi di Asia dan Afrika. Para ilmuwan menggunakan metode pelacakan molekul khusus yang disebut isotopolog metana untuk mencari tahu dari mana emisi tersebut berasal dan bagaimana perubahannya di seluruh dunia.
Hasil studi ini kemudian dipublikasikan di jurnal Nature Communications. Xueying Yu, pengajar penelitian di Pusat Penelitian Ilmu Atmosfer Universitas Albany sekaligus penulis utama studi, mengatakan bahwa isotopolog metana bekerja seperti sidik jari alami yang memungkinkan kita untuk membedakan berbagai sumber metana dan lebih memahami bagaimana emisi tersebut berkembang.
Yu dan tim peneliti internasional menggabungkan pengamatan satelit dengan pengukuran langsung dari darat untuk memperbaiki perkiraan emisi metana dunia dari tahun 2019 hingga 2021. Dengan memasukkan informasi tersebut, model penelitian ini memperkirakan bahwa emisi metana global ternyata sedikit lebih tinggi dibandingkan hasil yang hanya menggunakan pengamatan biasa.
Penelitian ini juga menunjukkan perbedaan penting di berbagai wilayah. Emisi metana ternyata lebih tinggi di Asia Timur terutama Cina, Asia Selatan terutama India, dan Afrika Tengah. Sebaliknya, emisi di wilayah Hutan Amazon justru lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Metana adalah gas rumah kaca berbahaya yang berasal dari alam maupun kegiatan manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan manusia punya peran lebih besar dalam kenaikan gas metana akhir-akhir ini daripada yang kita kira sebelumnya khususnya dari bahan bakar fosil di wilayah seperti Cina dan India.
Sementara emisi alami dari lahan basah di Amazon ternyata lebih rendah dari yang diperkirakan. Bersamaan dengan temuan tersebut, penelitian ini memperkenalkan cara baru untuk melacak emisi metana dengan mensimulasikan isotop dalam sistem atmosfer tiga dimensi (3D) yang lengkap.
Penelitian isotop metana sebelumnya lebih banyak mengandalkan “model kotak” yang sederhana, yang tidak bisa sepenuhnya menggambarkan bagaimana gas tersebut berpindah di udara, bercampur, atau berbeda-beda di setiap wilayah. Sistem baru ini justru memasukkan data isotop secara langsung ke dalam model sistem Bumi tiga dimensi.
Metode ini memungkinkan kami untuk menggabungkan data metana dari satelit dan pengukuran langsung dari darat secara konsisten, baik dari segi lokasi maupun waktu. Cara ini memberikan gambaran yang lebih nyata dan lebih akurat mengenai asal-usul serta proses gas metana dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa emisi metana global telah melonjak ke angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan diperkirakan akan naik hingga 13 persen pada tahun 2030. Kota Bekasi dinobatkan sebagai kota beracun kedua di dunia dengan emisi metana mencapai 6,3 ton per jam. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi emisi metana dan mengatasi dampaknya terhadap lingkungan.
