Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 April 2026 | Nottingham Forest kembali menjadi sorotan utama sepak bola Eropa ketika mereka menjamu FC Porto dalam laga kembali (leg) perempat final Liga Europa pada Kamis malam, 02.00 WIB. Pertandingan ini tidak hanya menjadi ujian taktik bagi pelatih Vitor Pereira, tetapi juga menambah beban emosional bagi skuad setelah kematian mendadak ibu Elliot Anderson, Helen Anderson. Klub telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Anderson dan keluarganya, serta menegaskan bahwa pemain berusia 23 tahun tidak akan tampil pada laga tersebut.
Elliot Anderson, yang telah menjadi salah satu pemain kunci Forest musim ini dengan 42 penampilan, dikenal sebagai gelandang kreatif yang berperan penting dalam transisi serangan. Selain perannya di klub, Anderson juga merupakan anggota penting skuad nasional Inggris dan diprediksi akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026. Ketidakhadirannya menjadi kehilangan signifikan bagi Forest, terutama pada malam penting yang dapat menentukan peluang mereka melaju ke semifinal.
Porto, yang menanggapi tragedi ini dengan rasa hormat, menyampaikan ucapan belasungkawa melalui platform media sosial mereka, menegaskan dukungan moral kepada Anderson dan keluarganya. Klub Portugis menambahkan bahwa mereka berharap Forest dapat menunjukkan performa terbaik meski dalam kondisi sulit.
Dalam konferensi pers pra-pertandingan, Vitor Pereira mengungkapkan ketidakpastian awal mengenai ketersediaan Anderson, namun menegaskan kesiapan tim untuk melanjutkan perjuangan. Pereira mengumumkan lima perubahan dalam susunan starting XI dibandingkan laga pertama yang berakhir imbang 1-1 di Estadio do Dragão. Neco Williams, Ola Aina, Ibrahim Sangaré, Omari Hutchinson, dan Jair Cunha masuk ke lini pertama, menggantikan beberapa pemain yang absen atau dirotasi.
Forest mengandalkan keunggulan kandang mereka di City Ground, di mana mereka berhasil mengalahkan Porto 2-0 pada pertemuan pertama. Kemenangan tersebut memberi mereka keunggulan dua gol, namun Porto tetap menjadi lawan yang tangguh dengan sejarah Eropa yang kaya, termasuk dua gelar Piala Eropa pada era Brian Clough (1979 dan 1980). “Sebagai pelatih, pemain, atau staf, malam seperti ini adalah kesempatan yang kami impikan. Kami memiliki peluang indah untuk mencapai semifinal, dan kami sangat menantikan pertandingan ini,” ujar Pereira menjelang peluit awal.
Selain isu Anderson, Forest juga harus menyeimbangkan ambisi domestik mereka di Premier League. Pada akhir pekan sebelumnya, mereka berhasil mengamankan poin melawan Aston Villa, yang membantu mereka tetap berada di zona aman klasemen. Kombinasi antara tekanan liga domestik dan harapan di kompetisi Eropa menambah kompleksitas strategi yang harus dihadapi manajer.
Statistik tim menunjukkan bahwa Forest memiliki pertahanan yang relatif solid, namun mereka harus meningkatkan efisiensi serangan mengingat kehilangan gelandang kreatif. Porto, di sisi lain, menunjukkan performa ofensif yang kuat dan pengalaman di kompetisi kontinental, menjadikan mereka lawan yang sulit dihadapi.
Jika Forest berhasil mengamankan kemenangan dengan selisih gol minimal, mereka akan melaju ke semifinal Liga Europa, mencetak sejarah baru bagi klub yang belum pernah mencapai fase tersebut sejak era kejayaan Clough. Namun, tanpa kehadiran Anderson, mereka harus mengandalkan pemain lain untuk mengisi peran playmaker, terutama dalam mengatur tempo dan menciptakan peluang bagi penyerang seperti Taiwo Awoniyi atau Matheus Pereira.
Penggemar Forest di seluruh dunia menantikan aksi tim kesayangan mereka pada laga ini, sambil memberikan dukungan moral kepada Elliot Anderson dan keluarganya. Situasi ini menegaskan betapa sepak bola tidak hanya tentang taktik dan skor, tetapi juga tentang empati dan solidaritas antar klub.
Apapun hasil akhir, pertandingan ini akan menjadi catatan penting dalam perjalanan Nottingham Forest di panggung Eropa, sekaligus memperlihatkan ketangguhan mental tim dalam menghadapi cobaan pribadi dan profesional.
