Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 27 April 2026 | Real Madrid menutup pekan ke‑32 LaLiga dengan hasil imbang 1‑1 melawan Real Betis di Estadio de la Cartuja, Jumat 24 April 2026. Vinícius Júnior membuka keunggulan Los Blancos hanya tujuh menit setelah peluit pertama, namun gol penyama kedudukan tercipta pada injury time babak kedua melalui tendangan Hector Bellerín, menjadikan skor akhir sama rata. Kegagalan mengamankan tiga poin di kandang lawan menambah tekanan pada skuad yang kini berada 11 poin di belakang pemuncak klasemen, Barcelona.
Statistik pertandingan mengungkapkan ketidakefisienan menawan Real Madrid. Tim tuan rumah mencatat delapan tembakan tepat sasaran, namun hanya satu yang berhasil mengubah skor. Sementara Real Betis menembak tiga kali ke gawang dengan dua gol yang berhasil masuk. Berikut rangkuman utama pertandingan:
- Tembakan tepat sasaran: Real Madrid 8, Real Betis 3
- Kepemilikan bola: Real Madrid 54%, Real Betis 46%
- Serangan berbahaya: Real Madrid 5, Real Betis 2
- Kesalahan defensif kritis: 4 (semua oleh Real Madrid)
Reaksi keras datang dari mantan pemain Real Madrid, Hipólito Rincón, yang menilai penampilan tim “sangat acak‑acakan, bahkan lebih buruk daripada era Xabi Alonso”. Ia menambahkan, “Ini menyakitkan, mata saya kadang berair melihat sepak bola yang seharusnya profesional berubah menjadi kekacauan total. Tim ini tidak dapat bertahan, menyerang, atau menjaga posisi secara konsisten.”
Secara taktik, tim asuhan Carlo Ancelotti tampak kehilangan identitas. Formasi 4‑3‑3 yang biasa diandalkan tidak mampu mengeksekusi pergerakan tanpa mengorbankan keseimbangan defensif. Garis belakang sering terpisah, memberi ruang bagi serangan balik lawan. Sementara lini tengah gagal mengendalikan tempo, mengakibatkan kehilangan bola di zona berbahaya. Di lini serang, ketergantungan pada Vinícius tidak diimbangi dengan opsi lain, sehingga pertahanan lawan mudah menutup ruang tembak.
Kegagalan ini memperparah jarak Real Madrid dengan Barcelona, yang kini memimpin klasemen dengan 84 poin, sementara Los Blancos berada di posisi kelima dengan 73 poin. Dengan lima pertandingan tersisa, Real Madrid harus meraih setidaknya empat kemenangan dan berharap Barcelona tergelincir untuk tetap bersaing memperebutkan gelar.
Masalah performa tidak hanya terbatas pada LaLiga. Di Copa del Rey, Real Madrid tersingkir di babak 16 besar oleh Albacete, tim kasta dua yang memberi kejutan besar. Di Liga Champions, Los Blancos juga gagal melaju lebih jauh, tereliminasi di perempat final oleh Bayern München. Dua musim berturut‑turut tanpa trofi menambah beban mental pada pemain dan staf.
Fans pun tak tahan menahan emosi. Di media sosial, komentar menggelora menuduh sikap pemain “tidak tahu diri”. Beberapa suporter menyoroti kurangnya disiplin dalam latihan dan kurangnya rasa tanggung jawab di lapangan. Kritik tajam juga diarahkan pada keputusan taktis Ancelotti yang dianggap terlalu pasif saat menahan keunggulan awal.
Ke depan, Real Madrid dihadapkan pada pilihan penting. Perbaikan taktik, rotasi skuad, dan penanaman mental juara menjadi prioritas utama. Manajemen klub diperkirakan akan menilai kembali peran pemain senior dan mempertimbangkan masuknya reinforcemen pada posisi sayap dan bek tengah. Tanpa perubahan signifikan, Real Madrid berisiko kehilangan peluang terakhir untuk meraih gelar musim ini.
Secara keseluruhan, penampilan Real Madrid yang acak‑acakan di laga melawan Real Betis menjadi cermin kegagalan struktural yang harus segera diatasi. Dengan tekanan kompetisi yang semakin besar, langkah strategis berikutnya akan menentukan apakah Los Blancos dapat mengembalikan kejayaan atau terus terpuruk di bawah bayang‑bayang Barcelona.
