Skandal Tendangan ‘Kungfu’ di EPA U-20: Dampak Besar pada Liga 1 dan Reaksi Nasional

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 April 2026 | Insiden tendangan ‘Kungfu’ yang dilakukan oleh pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Hengga, pada pertandingan ke-33 Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 U-20 memicu gejolak luas di kancah sepak bola Indonesia. Aksi tersebut terjadi setelah peluit akhir pertandingan, ketika Fadly melancarkan tendangan keras ke arah lawan yang tidak lagi berada dalam konteks permainan. Kejadian ini tidak hanya menimbulkan cedera, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang etika dan keamanan di level usia muda.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni, segera memberikan pernyataan tegas. Ia menilai aksi tersebut sudah masuk dalam ranah penganiayaan yang disengaja dan menuntut penyelidikan pidana. “Tindakan yang dilakukan Fadly Alberto ini tidak bisa ditoleransi. Ini bukan lagi soal pelanggaran fair play, tapi sudah masuk kategori penganiayaan,” ujar Sahroni dalam keterangan tertulis pada Senin, 20 April 2026. Sahroni menambahkan bahwa unsur kesengajaan sangat jelas, mengingat tendangan dilakukan di luar konteks pertandingan.

Baca juga:

Komisi III DPR melalui Sahroni juga menekankan pentingnya peran Komisi Disiplin PSSI (Komdis) untuk mengambil keputusan yang tegas. Ia mengingatkan bahwa integritas olahraga harus dijaga, terutama pada kompetisi yang melibatkan pemain muda. “Ada unsur kesengajaan yang sangat jelas, apalagi dilakukan di luar konteks permainan dan setelah pertandingan berakhir,” tegasnya.

Sementara itu, pihak Bhayangkara FC U-20 belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai langkah disiplin yang akan diambil. Namun, klub tersebut berada di bawah tekanan untuk menegakkan kode etik dan memberikan contoh yang baik bagi akademi muda. Pengamat sepak bola menilai bahwa klub harus segera melakukan evaluasi internal, memberikan sanksi yang proporsional, dan mengadakan pelatihan tentang sportivitas bagi seluruh pemainnya.

Insiden ini juga memengaruhi dinamika Liga 1 secara keseluruhan. Pada hari yang sama, BRI Super League menampilkan beberapa laga penting, termasuk kemenangan Persijap Jepara atas Semen Padang yang semakin menambah tekanan pada tim-tim yang berada di zona degradasi. Persijap, yang dipimpin oleh pelatih Mario Lemos, berhasil memanfaatkan strategi serangan balik untuk mengamankan tiga poin, sementara Semen Padang terpaksa menelan kekalahan yang memperdalam jurang mereka di klasemen.

Di sisi lain, Dewa United yang menjadi tuan rumah pada pekan ke-28 BRI Super League, harus menerima hasil imbang melawan Persib Bandung. Bojan Hodak, pelatih Dewa United, menyoroti kesalahan taktik Persib dan menekankan pentingnya kepemimpinan wasit dalam menjaga kelancaran pertandingan. Ia juga menegaskan bahwa kejadian di EPA U-20 harus menjadi pelajaran bagi semua klub untuk meningkatkan pengawasan disiplin di level junior.

Berbagai reaksi lain muncul dari tokoh-tokoh sepak bola. Nova Arianto, mantan pelatih Timnas Indonesia, mengingatkan bahwa tindakan serupa dapat menurunkan citra liga dan menghambat pengembangan bakat muda. “Ada konsekuensi yang harus dihadapi, baik secara sportivitas maupun hukum,” ujarnya.

Berikut rangkuman poin penting terkait insiden dan perkembangan liga:

  • Fadly Alberto Hengga melakukan tendangan ‘Kungfu’ setelah pertandingan EPA U-20 berakhir.
  • Ahmad Sahroni menganggap aksi tersebut sebagai penganiayaan dan meminta penyelidikan pidana.
  • Komdis PSSI diharapkan mengambil keputusan disiplin yang tegas.
  • Persijap Jepara meraih tiga poin melawan Semen Padang, memperkuat posisi di zona aman.
  • Dewa United dan Persib Bandung berakhir imbang, menambah ketegangan di klasemen tengah.

Para ahli menilai bahwa regulasi mengenai pemain U-23 di BRI Super League juga harus dievaluasi untuk mengurangi risiko kejadian serupa. Johnny Jansen, pelatih Bali United, menyatakan keberatan atas rumor penghapusan regulasi tersebut, karena ia percaya bahwa batas usia membantu pengembangan pemain muda dengan pengawasan yang lebih ketat.

Secara keseluruhan, insiden tendangan ‘Kungfu’ menyoroti tantangan yang dihadapi sepak bola Indonesia dalam menyeimbangkan kompetisi yang kompetitif dengan nilai-nilai sportivitas. Diharapkan semua pihak, mulai dari pemain, pelatih, klub, hingga regulator, dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan fair bagi generasi penerus sepak bola tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *