IHSG Cerah Membuka Hari, Namun Rupiah Terpuruk di Rp 17.105 per Dollar: Apa Penyebabnya?

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pada Senin pagi dengan catatan positif, menandakan sentimen pasar yang optimis meski nilai tukar rupiah kembali menguat ke level terendah dalam sejarah, yakni Rp 17.105 per dolar Amerika Serikat. Kenaikan IHSG dipicu oleh aliran likuiditas domestik dan ekspektasi kebijakan moneter yang mendukung, sementara tekanan pada rupiah mencerminkan rangkaian faktor eksternal dan internal yang semakin kompleks.

Menurut ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, pelemahan rupiah bukan sekadar akibat satu variabel tunggal. Ia menyoroti tiga pilar utama yang berkontribusi pada depresiasi mata uang nasional: penurunan surplus neraca perdagangan, inflasi domestik yang lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat, serta kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih berada pada level tinggi.

Baca juga:

Secara teknis, meski Indonesia masih mencatat surplus perdagangan, nilai surplus tersebut menurun secara signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan ini mengurangi aliran devisa masuk yang biasanya berfungsi sebagai penyangga nilai tukar. Selain itu, inflasi Indonesia yang berada di atas 4,5% masih melampaui inflasi Amerika Serikat yang berada di sekitar 3%, sehingga daya beli rupiah tergerus dan investor asing cenderung mengalihkan modal ke aset berbasis dolar.

Faktor eksternal lainnya adalah kebijakan moneter Federal Reserve yang belum menurunkan suku bunga acuan. Tingginya suku bunga AS membuat aset berbasis dolar lebih menarik, memicu arus modal keluar dari pasar emerging, termasuk Indonesia. Kondisi geopolitik di Timur Tengah juga menambah tekanan melalui dua jalur utama: kenaikan harga minyak mentah dan pergeseran sentimen risiko global.

  • Kenaikan Harga Minyak: Indonesia masih menjadi net oil importer, sehingga lonjakan harga energi meningkatkan beban impor dan menurunkan cadangan devisa.
  • Sentimen Risiko: Konflik di Timur Tengah menimbulkan ketidakpastian yang mendorong investor mencari aset safe‑haven, terutama dolar AS.

Di sisi pasar modal, IHSG berhasil menembus level positif berkat beberapa faktor pendukung. Pertama, data manufaktur domestik menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan, memberikan sinyal pemulihan ekonomi pasca‑pandemi. Kedua, bank-bank besar melaporkan laba bersih yang meningkat, memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor keuangan. Ketiga, indeks sektor teknologi dan konsumer menunjukkan tren naik, didorong oleh peningkatan konsumsi digital dan daya beli yang masih kuat meski inflasi tinggi.

Namun, pergerakan rupiah yang melemah tetap menjadi perhatian utama regulator dan otoritas fiskal. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan penyesuaian anggaran untuk mengakomodasi kurs yang lebih tinggi, mengingat rata-rata kurs spot rupiah pada tahun 2026 tercatat di level Rp 16.869 per dolar. Kelemahan nilai tukar dapat menurunkan kapasitas fiskal, terutama dalam pembiayaan proyek infrastruktur yang banyak bergantung pada pembiayaan luar negeri.

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan intervensi pasar dengan menyediakan likuiditas dolar melalui swap dan pasar terbuka, sambil tetap memantau tekanan inflasi domestik. Pada saat yang sama, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam batas wajar, mengingat volatilitas global yang masih tinggi.

Secara keseluruhan, dinamika antara pasar saham yang menunjukkan optimisme dan nilai tukar rupiah yang melemah mencerminkan dualitas tantangan ekonomi Indonesia. Sementara IHSG memberi sinyal bahwa pasar modal mampu mengatasi tekanan eksternal, nilai tukar rupiah tetap menjadi indikator utama yang harus dipantau oleh pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan investor.

Dengan kombinasi kebijakan moneter yang hati-hati, upaya diversifikasi ekspor, serta penguatan cadangan devisa, diharapkan Indonesia dapat menstabilkan nilai tukar sekaligus menjaga momentum pertumbuhan di pasar saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *