Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Pemerintah Amerika Serikat kembali mengeluarkan pernyataan tegas pada 27 April 2026, menuduh Iran menambah jumlah ranjau laut di sekitar Selat Hormuz. Informasi ini pertama kali muncul dalam laporan Axios yang mengutip pejabat militer AS serta sumber lain yang tidak diungkapkan namanya. Meskipun belum ada angka pasti, pihak militer AS tengah melakukan penyelidikan intensif untuk menentukan berapa banyak ranjau baru yang telah dipasang oleh Tehran.
Menurut analisis para pengamat militer, perkiraan jumlah ranjau yang dipasang tidak lebih dari seratus buah. Penambahan ranjau ini dianggap sebagai upaya Iran untuk memperkuat pertahanan lautnya sejak menguasai sebagian wilayah selat pada awal Maret 2026, ketika ketegangan regional memuncak setelah beberapa insiden kapal tanker.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons dengan perintah langsung kepada Angkatan Laut untuk menghancurkan semua ranjau yang terdeteksi serta menargetkan kapal-kapal Iran yang diduga berusaha menebar ranjau lebih lanjut. Dalam sebuah pernyataan yang dilansir The Guardian, Trump menegaskan bahwa blokade penuh terhadap Selat Hormuz akan diterapkan, dengan tujuan memaksa Iran menyerah pada tuntutan diplomatik Washington.
Blokade yang dimulai pada 13 April 2026 ini telah menuai kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menilai tindakan Amerika Serikat melanggar hukum internasional karena setiap negara berhak berlayar di perairan internasional, termasuk Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis bagi transportasi minyak dunia.
Akibat blokade, aliran minyak mentah dari Timur Tengah ke pasar global mengalami gangguan signifikan, memicu kenaikan harga energi secara global. Para pelaku pasar memperkirakan penurunan pasokan dapat menambah tekanan inflasi di banyak negara.
Di tengah ketegangan militer, Iran mengirimkan proposal diplomatik melalui perantara Pakistan pada 27 April 2026. Proposal tersebut berisi permintaan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan, dengan syarat Amerika Serikat mencabut blokade aset Iran yang melintasi selat. Iran juga menuntut gencatan senjata yang diperpanjang serta penundaan pembicaraan nuklir ke tahap berikutnya setelah selat terbuka.
- Proposal Iran menekankan pencabutan blokade ekonomi.
- Menyarankan negosiasi nuklir dilanjutkan setelah kondisi keamanan stabil.
- Mengusulkan dialog langsung antara tim keamanan nasional AS dan pejabat tinggi Iran.
Pihak Gedung Putih, melalui juru bicara Olivia Wales, menanggapi bahwa keputusan tidak akan diambil terburu‑buru. Amerika Serikat menegaskan bahwa kepentingan nasional dan keamanan rakyat Amerika tetap menjadi prioritas utama, serta menolak segala bentuk senjata nuklir di tangan Iran.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi apakah Amerika Serikat akan menanggapi proposal tersebut atau melanjutkan operasi militer. Namun, para analis menilai bahwa tekanan ekonomi melalui blokade dapat menjadi kartu tawar menekan Tehran untuk kembali ke meja perundingan.
Situasi di Selat Hormuz tetap volatile. Keduanya, ranjau laut yang terus menambah risiko bagi kapal dagang dan potensi konflik militer, serta upaya diplomatik yang masih dalam tahap negosiasi, menciptakan ketidakpastian bagi stabilitas regional dan pasar energi global.
Dalam beberapa minggu ke depan, dunia akan menyaksikan apakah tindakan militer AS akan berlanjut atau apakah dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat dapat membuka jalan menuju perdamaian yang lebih berkelanjutan di kawasan strategis ini.
