Presiden Iran Curhat ke Macron: Kami Ditusuk dari Belakang Dua Kali oleh Amerika

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 16 Mei 2026 | Presiden Iran, Ebrahim Raisi, baru-baru ini mengungkapkan perasaannya yang mendalam tentang pengalaman negaranya dengan Amerika Serikat. Dalam pertemuannya dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Raisi mengungkapkan bahwa Iran telah mengalami pengkhianatan dua kali dari Amerika.

Raisi menjelaskan bahwa pengalaman pertama terjadi ketika Amerika menandatangani Perjanjian Nuklir Bersama (JCPOA) pada 2015, tetapi kemudian memutuskan untuk meninggalkan perjanjian tersebut pada 2018. Keputusan ini menyebabkan Iran mengalami kerugian ekonomi yang signifikan.

Baca juga:

Pengalaman kedua terjadi ketika Amerika Serikat meluncurkan serangan drone yang membunuh Jenderal Qasem Soleimani pada Januari 2020. Peristiwa ini memicu ketegangan antara Amerika dan Iran, dan menyebabkan krisis diplomatik yang serius.

Raisi mengungkapkan bahwa pengalaman-pengalaman ini telah membuat Iran menjadi lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan Amerika. Ia menekankan bahwa Iran tidak akan pernah melupakan pengkhianatan-pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Amerika.

Sementara itu, terdapat juga berita tentang Ibu Negara Prancis, Brigitte Macron, yang ramai menjadi perbincangan hangat setelah buku berjudul Un Couple (Presque) Parfait karya Florian Tardif dirilis. Buku tersebut menyinggung tentang insiden dugaan tamparan yang dilayangkan Brigitte Macron kepada suaminya, Emmanuel Macron, di atas pesawat saat kunjungan ke Vietnam pada Mei 2025 lalu.

Dalam video yang viral di media sosial tahun 2025 lalu, Brigitte tampak terlihat mendorong suaminya, yang notabennya Presiden Prancis saat keduanya bersiap turun dari pesawat. Saat itu, Emmanuel menyebut bahwa dia dan istrinya tengah bercanda. Namun, dalam buku Un Couple (Presque) Parfait, disebutkan bahwa Brigitte Macron marah besar setelah melihat adanya dugaan pesan singkat antara suaminya dengan aktris keturunan Prancis-Iran bernama Golshifteh Farahani.

Penulis buku tersebut, Florian Tardif, mengatakan bahwa sumber dekat pasangan presiden menyebut Macron menjalin hubungan platonis dengan Farahani selama beberapa bulan. Tak hanya itu saja, sang penulis juga membeberkan isi percakapan dengan Farahani yang kini berusia 42 tahun, termasuk salah satu pesan yang dikirim Macron bernada memuji.

Brigitte Macron membantah tudingan bahwa dirinya pernah menampar suaminya tahun lalu setelah membaca percakapan pesan antara Emmanuel Macron dan Golshifteh Farahani. Ia dengan tegas membantah cerita tersebut langsung kepada penulis pada 5 Maret, sambil menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memeriksa ponsel suaminya.

Kesimpulan dari peristiwa-peristiwa ini adalah bahwa hubungan antara negara-negara besar masih sangat kompleks dan rentan terhadap konflik. Pengalaman Iran dengan Amerika Serikat menunjukkan bahwa kepercayaan dan kerja sama antara negara-negara masih sangat sulit untuk dibangun dan dipertahankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *