Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 Juni 2026 | Perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diharapkan dapat menyelesaikan konflik panjang antara kedua negara tersebut terancam gagal. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan bahwa perjanjian tersebut belum final dan AS dapat kembali melakukan serangan udara terhadap Iran jika perjanjian tersebut tidak berjalan sesuai keinginan.
Trump juga menegaskan bahwa AS tidak akan berinvestasi pada Iran dan bahwa perjanjian tersebut harus memastikan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Ia juga menyatakan bahwa perjanjian tersebut harus memenuhi standar yang sangat tinggi dan bahwa AS tidak akan menerima kompromi dalam hal keamanan nasional.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa perjanjian tersebut harus memenuhi beberapa syarat, termasuk penghentian pendudukan Israel di Lebanon. Namun, pejabat AS menyatakan bahwa perjanjian tersebut tidak memuat ketentuan tersebut.
Perjanjian damai antara AS dan Iran telah lama dinantikan, tetapi proses perundingannya telah terhambat oleh beberapa faktor, termasuk perbedaan pendapat tentang masalah nuklir dan keamanan regional. AS telah menetapkan beberapa syarat yang ketat untuk perjanjian tersebut, termasuk penghentian program nuklir Iran dan penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok militan di Timur Tengah.
Rebeccah Heinrichs, seorang ahli keamanan dari Hudson Institute, menyatakan bahwa perjanjian tersebut memiliki beberapa kelemahan, termasuk potensi akses Iran ke sumber daya minyak dan gas yang dapat digunakan untuk mendanai kegiatan militan. Ia juga menyatakan bahwa perjanjian tersebut dapat melemahkan posisi AS dalam negosiasi dengan Iran di masa depan.
Kesimpulan dari perjanjian damai antara AS dan Iran masih belum jelas. Namun, jelas bahwa perjanjian tersebut memiliki beberapa tantangan yang signifikan dan bahwa AS dan Iran masih memiliki perbedaan pendapat yang besar tentang beberapa masalah kunci.
