Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 April 2026 | Mohammad Bagher Ghalibaf, tokoh politik senior Iran, kini memimpin delegasi juru runding negara itu dalam rangkaian pertemuan damai dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan pada Sabtu 11 April 2024. Penunjukan Ghalibaf sebagai kepala tim juru runding menandai langkah signifikan dalam upaya meredakan ketegangan bilateral yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Ghalibaf lahir pada 29 Agustus 1961 di Tehran dan meniti karier militer di Angkatan Udara Iran, di mana ia pernah menjabat sebagai komandan angkatan tersebut. Setelah Revolusi Islam 1979, ia tetap aktif dalam struktur militer dan kemudian beralih ke dunia politik. Pada tahun 2005 ia terpilih menjadi Walikota Tehran, posisi yang ia pegang selama tiga periode hingga 2017, menjadikannya salah satu figur publik paling dikenal di ibu kota Iran.
Setelah mengakhiri masa jabatan sebagai Walikota, Ghalibaf terpilih menjadi Ketua Majelis Sepuh (Parlemen) Iran pada tahun 2021. Sebagai Ketua Parlemen, ia mengawasi proses legislasi serta berperan sebagai jembatan antara eksekutif dan badan legislatif. Pengalaman luasnya di bidang militer, administrasi kota, serta legislasi menjadikan ia pilihan strategis untuk memimpin negosiasi dengan Washington, yang menuntut pemahaman mendalam tentang keamanan regional serta dinamika politik internal Iran.
Perundingan yang diadakan di Islamabad dipilih karena kedudukan kota tersebut sebagai negara netral yang memiliki hubungan diplomatik baik dengan kedua pihak. Negosiasi ini diharapkan dapat membahas lima isu utama yang selama ini menjadi ganjalan: program nuklir Iran, pembatasan sanksi ekonomi, keamanan perairan Teluk Persia, hak asasi manusia, dan mekanisme verifikasi kepatuhan. Ghalibaf menyatakan komitmen kuat untuk melindungi kepentingan nasional Iran sekaligus membuka ruang dialog yang konstruktif.
Dalam beberapa pernyataan publik menjelang pertemuan, Ghalibaf menekankan bahwa Iran tidak akan mengorbankan kedaulatan atau program energi nuklirnya, namun bersedia menegosiasikan jalur yang dapat mengurangi tekanan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat Iran. Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama anti-terorisme serta menegaskan bahwa keamanan regional harus menjadi prioritas bersama.
Para analis politik menilai penunjukan Ghalibaf sebagai sinyal bahwa pemerintah Iran menginginkan negosiasi yang lebih pragmatis dan terarah. Latar belakang militer Ghalibaf dianggap dapat memberi bobot tambahan pada isu-isu keamanan, sementara pengalaman legislatifnya diharapkan dapat memfasilitasi proses persetujuan hasil perundingan di dalam parlemen Iran.
Di sisi Amerika Serikat, delegasi yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri menekankan bahwa tujuan utama mereka adalah mengamankan kepatuhan Iran terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan mengurangi risiko konflik militer di kawasan. Kedua belah pihak sepakat untuk menggunakan mekanisme verifikasi independen yang melibatkan badan internasional, sebagai upaya membangun kepercayaan yang sudah lama tergerus oleh kebijakan sanksi dan retorika keras.
Kesimpulannya, kehadiran Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai kepala tim juru runding Iran menandai babak baru dalam hubungan diplomatik antara Tehran dan Washington. Pengalaman militernya, kepemimpinan di parlemen, serta reputasi sebagai tokoh yang mampu menjembatani kepentingan nasional dan tekanan internasional menjadi faktor kunci yang dapat menentukan arah hasil pertemuan di Islamabad. Jika negosiasi berjalan lancar, kedua negara berpotensi mengurangi ketegangan regional, membuka jalur ekonomi baru, dan memberikan harapan bagi stabilitas politik di Timur Tengah.
