Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 16 Mei 2026 | Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, baru saja melakukan kunjungan ke China. Namun, ada hal unik yang terjadi selama kunjungannya. Pemerintah China mengganti ejaan nama belakang Rubio menjadi ‘Lu’ dalam dokumen resmi kenegaraan. Hal ini memungkinkan Rubio untuk masuk ke China tanpa harus mencabut sanksi yang masih berlaku terhadapnya.
Rubio dikenal gigih memperjuangkan hak asasi manusia di China saat masih menjadi Senator. China kemudian membalas dengan menjatuhkan sanksi kepadanya sebanyak dua kali. Namun, pemerintah China tidak ingin terlihat lemah dengan mencabut sanksi terhadap Rubio.
Oleh karena itu, China melakukan penyesuaian pada cara penulisan nama Rubio dalam karakter Mandarin. Dengan mengubah transliterasi karakter menjadi ‘Lu’, sang menteri kini secara administratif tercatat sebagai ‘Marco Lu’ dalam dokumen kunjungan tersebut.
Perubahan nama ini memungkinkan Beijing untuk menyambut Rubio tanpa harus secara teknis melanggar aturan sanksi yang masih berlaku terhadap nama Marco Rubio. Strategi ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama, sejak Rubio menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada Januari 2025.
Kehadiran Rubio di China menarik perhatian karena alasan lain setelah Gedung Putih merilis foto dirinya bersantai mengenakan pakaian olahraga Nike seperti yang dikenakan oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro ketika pasukan AS menangkapnya. Rubio merupakan keturunan Kuba-Amerika yang lantang menentang komunisme dan merupakan penulis utama undang-undang kongres yang memberlakukan sanksi luas terhadap China atas dugaan penggunaan kerja paksa oleh minoritas Uyghur yang mayoritas Muslim.
Tuduhan itu telah dibantah keras oleh Beijing. Rubio juga telah berbicara menentang tindakan keras Beijing di Hong Kong. Dalam kesempatan ini, Rubio menegaskan bahwa harga bensin yang tinggi di AS tidak akan memengaruhi kebijakan Washington terhadap Iran.
Konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang memanas sejak Februari 2026 menyebabkan gangguan distribusi minyak global. Harga bensin di Amerika Serikat mencapai 4,53 dolar AS per galon pada 14 Mei 2026 akibat ketegangan geopolitik tersebut.
Menurut Rubio, AS telah mengambil langkah-langkah luar biasa untuk menjaga harga bensin tetap lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lain di dunia, dan harganya akan terus turun. Rubio menegaskan bahwa kenaikan harga bensin di AS tidak akan memengaruhi kebijakan Washington terhadap Iran.
