Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 25 April 2026 | Jumat, 24 April 2026 – Militer Israel mengeluarkan peringatan tegas kepada penduduk selatan Lebanon untuk segera mengungsi meski kesepakatan gencatan senjata Lebanon-Israel masih berlaku. Peringatan tersebut disampaikan lewat akun resmi X juru bicara militer, Avichay Adraee, yang menekankan adanya aktivitas teroris Hizbullah di wilayah Deir Aames, sebuah desa yang terletak tepat di atas garis kuning perbatasan.
Menurut pernyataan tersebut, warga diminta berpindah setidaknya 1.000 meter menjauhi zona operasi. “Demi keselamatan Anda, kami mendesak Anda untuk segera mengungsi dari rumah Anda,” tulis Adraee dalam bahasa Arab. Meski gencatan senjata telah diperpanjang selama tiga minggu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, operasi terarah IDF tetap berlangsung di daerah yang dianggap strategis.
Perpanjangan gencatan senjata diumumkan pada Jumat (24/4) setelah pertemuan intensif di Gedung Putih yang dihadiri tokoh-tokoh tinggi seperti Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, duta besar Lebanon Nada Hamadeh Moawad, serta duta besar Israel Yechiel Leiter. Trump menegaskan bahwa pertemuan berjalan “sangat baik” dan menambahkan Amerika Serikat akan membantu Lebanon melindungi diri dari ancaman Hizbullah.
Namun, di lapangan, situasi tetap rapuh. Pada Rabu (22/4), serangan Israel menewaskan jurnalis Lebanon, Amal Khalil, yang sedang meliput pertempuran di at‑Tiri. Militer Israel membantah menargetkan jurnalis atau petugas penyelamat, namun insiden tersebut memicu kemarahan luas di Lebanon dan menimbulkan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
Berbagai pihak Lebanon menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah selatan serta penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil. Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Najib Mikati menekankan kebutuhan akan proses rekonstruksi yang melibatkan penempatan pasukan Lebanon di sepanjang perbatasan. Mereka juga menuntut pembebasan tahanan Lebanon yang ditahan di Israel.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyerukan kerja sama Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah. “Kami tidak memiliki perselisihan serius dengan Lebanon. Ada beberapa sengketa perbatasan kecil yang dapat diselesaikan,” ujar Saar dalam sebuah konferensi pers.
Data yang tersedia menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata awal pada 17 April, IDF telah menargetkan lebih dari 380 sasaran Hizbullah di selatan Lebanon, termasuk peluncur roket dan markas komando. Pada sisi lain, Hizbullah melaporkan sejumlah pelanggaran tembakan ke arah warga sipil, meski mereka menolak setiap tuduhan mengintensifkan konflik.
Berikut beberapa poin utama yang menandai ketegangan selama periode gencatan senjata yang diperpanjang:
- Perpanjangan tiga minggu oleh AS pada 24 April 2026, dengan harapan menciptakan ruang bagi diplomasi lebih lanjut.
- Peringatan evakuasi bagi warga Deir Aames, menandakan operasi militer yang masih aktif di zona perbatasan.
- Insiden penembakan terhadap jurnalis dan ambulans yang menimbulkan kecaman internasional.
- Tekanan politik dari Lebanon untuk penarikan pasukan Israel dan pembebasan tawanan.
- Klaim Amerika Serikat akan membantu Lebanon mengatasi ancaman Hizbullah, sekaligus menegaskan hak Israel untuk membela diri.
Pengamat militer menilai bahwa meskipun ada kesepakatan formal, gencatan senjata Lebanon-Israel tetap sangat rentan karena kedua belah pihak masih beroperasi dalam zona konflik yang padat. Faktor-faktor seperti kehadiran kelompok bersenjata non‑negara, dinamika politik domestik masing‑masing negara, serta peran aktor eksternal seperti Amerika Serikat dan Iran memperumit upaya menjaga kestabilan.
Dalam beberapa hari ke depan, dunia akan menantikan apakah pertemuan lanjutan di Gedung Putih antara Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat menghasilkan langkah konkret, seperti penarikan pasukan dan mekanisme verifikasi pelanggaran. Jika tidak, risiko eskalasi kembali ke tingkat yang lebih tinggi tetap tinggi, menempatkan warga sipil di kedua sisi perbatasan dalam posisi yang sangat rawan.
Kesimpulannya, meski gencatan senjata Lebanon-Israel telah diperpanjang, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan tetap tinggi. Upaya diplomatik harus didukung oleh langkah-langkah konkret di medan tempur untuk mencegah kembali terjadinya konflik berskala besar.
