Dolar AS Kehilangan Safe Haven, Rupiah Merosot Rekor, dan Harga Minyak Meroket Pasca Pembukaan Selat Hormuz

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 18 April 2026 | Jakarta – Pasar valuta global mengalami gejolak tajam pada minggu terakhir April 2026 setelah serangkaian perkembangan geopolitik di Timur Tengah mengubah persepsi investor terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sebagai aset safe‑haven. Indeks dolar AS yang mengukur nilai mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama sempat turun ke level terendah 97,63 pada sesi New York, sebelum sedikit pulih ke 98,21. Penurunan ini sejalan dengan pembukaan Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup sebagian akibat ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Keputusan Iran untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz, jalur laut utama bagi distribusi minyak mentah global, dipandang sebagai kelegaan bagi pelaku pasar energi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan pembukaan jalur tersebut sehari setelah kesepakatan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung menanggapi melalui media sosialnya dengan mengucapkan terima kasih kepada Iran, namun menegaskan bahwa blokade AS terhadap kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran tetap berlaku.

Baca juga:

Reaksi pasar terhadap berita tersebut tampak kontras. Di satu sisi, dolar AS kehilangan sebagian daya tariknya sebagai pelindung nilai karena dianggap lebih rentan terhadap fluktuasi harga minyak yang kini dipengaruhi oleh kebijakan lalu lintas di Selat Hormuz. Di sisi lain, mata uang utama lainnya menguat. Euro naik menjadi 1,1790 dolar, poundsterling menjadi 1,3544 dolar, dan yen Jepang menguat menjadi 158,24 yen per dolar. Nilai tukar mata uang lain juga tercatat dalam tabel berikut:

Mata Uang Nilai terhadap USD
Euro 1,1790
Poundsterling 1,3544
Yen Jepang 158,24
Franc Swiss 0,7801
Dolar Kanada 1,3676
Kronor Swedia 9,1396

Sementara itu, rupiah Indonesia terus tertekan. Pada Jumat 17 April 2026, nilai tukar rupiah tercatat pada Rp17.188 per dolar, melemah 0,29 persen atau sekitar 50 poin dibandingkan sesi sebelumnya. Kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) menempatkan rupiah pada Rp17.189 per dolar. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa tekanan domestik tetap menjadi faktor utama penurunan rupiah, meskipun indeks dolar AS sedikit rebound.

Peningkatan volatilitas di pasar energi turut mendorong kenaikan harga minyak mentah Indonesia. Harga rata‑rata Indonesian Crude Price (ICP) pada bulan Maret 2026 naik menjadi 102,26 dolar per barel, meningkat 33,47 dolar dibandingkan Februari 2026. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang menyebabkan gangguan pasokan minyak global dan penutupan sementara Selat Hormuz pada awal konflik. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus memantau situasi dan mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Secara keseluruhan, dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan maritim telah menciptakan pola pergerakan yang tidak terduga pada dolar AS, rupiah, serta harga minyak. Investor kini lebih berhati‑hati, mengalihkan sebagian dana ke aset-aset yang dianggap lebih stabil, sementara bank sentral di seluruh dunia menyiapkan kebijakan moneter yang fleksibel untuk mengatasi potensi tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi.

Ke depan, pasar akan terus mengamati perkembangan negosiasi damai di Timur Tengah, kebijakan moneter bank sentral, serta respons kebijakan fiskal Indonesia dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah dan menahan laju inflasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *